New Videos from Youtube
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kebijakan Wajib Ekskul Pramuka Dikeluhkan

KARAWANG, Spirit
Kebijakan Kurikulum 2013 adalah mewajibkan siswa untuk masuk dan terlibat aktif dalam ekstra kurikuler Pramuka. Namun, kebijakan ini banyak dikeluhkan para pengurus ekskul di luar ekskul Pramuka.

Di SMAN 3 Karawang misalnya, Wakil Kepala SMAN 3 Karawang Bidang Kesiswaaan, Sukmawati mengeluhkan soal berkurangnya anggota ekskul di luar Pramuka. “Dulu, sebelum diwajibkan ekskul Pramuka, anggota ekskul PMR paling banyak. Sekarang berkurang drastis,” keluhnya.

Siswa lebih memilih ekskul yang wajib dan enggan mengikuti ekskul pilihan di luar ekskul wajib. “Kami juga tidak bisa memaksa. Persoalannya kan, apabila pembina memaksa si anak untuk ikut ekskul wajib sekaligus ikut ekskul pilihan, kasian si anak. Mereka kecapean. Makanya, kami bebaskan mereka untuk ikut atau tidak ekskul pilihan,” ujar Sukmawati.

Berkurangnya jumlah peminat ekskul di luar ekskul Pramuka memang tidak berdampak pada ekskul itu sendiri. Buktinya, masih banyak ekskul yang berprestasi walau minim anggota. “Dulu, anggota ekskul PMR itu lebih dari 50 orang. Sekarang kan berkurang drastis. Tapi buktinya, PMR masih berprestasi. Buktinya, kami dua kali memenangkan piala bergilir PMR tingkat Purwasukasi,” tegasnya.

Di tempat terpisah, Kepala SMAN 5 Karawang Ati Suginanti tidak memasalahkan soal kebijakan ekskul Pramuka. “Itu kebijakan dari pusat yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Di SMAN 5 Karawang tidak ada masalah terkait kebijakan itu.” (muh)

PMR Bukan Ekskul Banci

“PMR (Palang Merah Remaja, red) itu bukan ekstrakulikuler (eskul) buat banci. Kebanyakan orang (siswa) mengira kalau di PMR itu hanya ada perempuan, padahal lelaki juga banyak. Malah eskul ini taruhannya nyawa.” Diki Aziz, Ketua PMR SMANTIKA

Ketika digelar sebuah acara, semisal upacara bendera setiap hari Senin, banyak orang yang hanya fokus terhadap apelnya saja. Orang-orang kerap lupa terhadap keberadaan sebuah tim kesehatan yang bernama Palang Merah Remaja (PMR).

“Padahal kami selalu siap dan sigap jika kami dibutuhkan. Jika ada yang sakit, kami siap melakukan pertolongan pertama. Itulah mengapa peran kami sangat krusial,” kata Diki Azis, Ketua PMR SMANTIKA (SMAN 3 Karawang) kepada Spirit Karawang, Senin (1/12).

Anggapan eskul banci yang disematkat kepada PMR SMANTIKA, tak membuat Diki putus asa. Malah, katanya, dirinya mau merubah anggapan tersebut dengan kegiatan-kegiatan serta prestasi-prestasi yang bisa membanggakan sekolahannya.

“Ya, kami ingin merubah itu. Selain dengan prestasi, kami juga ingin menghapuskan anggapan itu dengan anggota yang dimayoritasi oleh lelaki,” kata siswa kelas 11 MIA 6 tersebut.

Selain itu, Diki juga ingin memberikan pengertian kepada orang-orang, khususnya kepada siswa, bahwa di dalam eskul PMR itu banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil. Diki menyontohkan, dengan PMR, siswa diajarkan supaya tanggap dalam setiap keadaan.

“Mana mungkin kan anggota PMR tidak tanggap? Selain itu motto PMR sendiri itu kan ‘Cerdas, Ceria, dan Bersahabat’. Jadi, kalau tidak cerdas, bukan anggota PMR. Hehe,” katanya.

Sementara itu, Rakanda MNP, anggota PMR SMANTIKA, menganggap bahwa eskul PMR bukan lagi menjadi sebuah eskul. Lebih dari itu, Rakanda sudah menjadikan PMR SMANTIKA sebagai sebuah keluarga. “Kami sudah menjadi satu keluarga. Banyak keceriaan dan kesedihan yang sudah kami rasakan bersama,” kata siswa kelas 10 MIA 1 tersebut.

Melalui PMR SMANTIKA itulah Rakanda bisa memuluskan keinginannya menjadi seorang dokter. Menurutnya, dasar-dasar kesehatan bisa dipelajari di dalam PMR SMANTIKA. “Karena saya juga ingin jadi dokter. Makanya saya masuk PMR,” katanya.

PMR SMANTIKA sudah banyak menorehkan prestasi. Hal itu kontan mengangkat derajat SMAN 3 Karawang secara keseluruhan. Prestasi teranyar yang diraih PMR SMANTIKA adalah menjadi Juara 1 di Olimpiade Penanggulangan Penderita Gawat Darurat (PPED) se-Purwasuka (Purwakarta, Subang, dan Karawang).

“Prestasi ini mengulang prestasi di tahun 2013. Di mana waktu itu, Juara 1 PPED juga diraih oleh kami,” ungkap Diki. Pada waktu itu, PMR SMANTIKA mengirimkan 5 grup dalam olimpiade yang memperebutkan trofi bupati tersebut. Dari kelima grup tersebut, grup 46-lah yang berhasil meraih predikat Juara 1.

“Kami tidak menyangka bisa menang. Kami sebenarnya pesimis bisa menang, melihat peta persaingan sangat ketat. Di olimpiade tersebut ada SMA 2 dan SMK 2 yang sudah terkenal dengan PMR-nya,” ujar Diki lagi.

Bukan hanya olimpiade di atas, PMR SMANTIKA pun pernah menyabet Juara 3 di perlombaan Presentasi Kepalangmerahan yang digelar di SMK 1 Karawang. “Waktu itu kami mempresentasikannya dengan bahasa Inggris. Dan alhamdulillah dapat Juara 3,” katanya.PMR SMANTIKA sendiri kini memiliki anggota 45 orang. Eskul tersebut rutin menggelar latihan pada hari Rabu dan Jumat. 

Menurut Wakasek Kesiswaan, Dra. Sukmawati, PMR SMANTIKA adalah sebuah ekskul yang merupakan favorit di kalangan pelajar. Namun, setelah ada kebijakan yang mewajibkan pramuka, ekskul PMR pun mulai menyusut peminatnya.

“Padahal dulu banyak loh anggotanya. Sampai beratus-ratus. Mungkin sekarang berkurang karena adanya kewajiban bagi siswa untuk mengikuti ekskul pramuka,” katanya ketika ditemui diruang kerjanya. (Gus Muhammad AR)

LKP Karawang Raih Berbagai Juara

KARAWANG, Spirit
Lembaga Kursus dan pelatihan (LKP) Kabupaten Karawang menunjukkan tajinya dengan menyabet berbagai juara, diantaranya juara stand pameran kursus kategori data terbaik tingkat Provinsi Jawa Barat pada perhelatan Hari Kompetensi Nasional yang diselenggarakan oleh DPD Himpunan Penyelenggaraan Pelatihan dan Kursus Indonesia (HIPKI) Jawa Barat dan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat di Atrium FestivalCitilink Mall, Kotamadya Bandung, 29-30 Nopember 2014.

Menurut Kabid Pendidikan Non Formal dan Informal Dinaa Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PNFI Disdikpora) Karawang, Amid Mulyana SE, kepada Spirit Karawang, Selasa (2/12), penghargaan ini akan memotivasi pelayanan pendidikan non formal dan informal di Karawang menjadi lebih baik. Pada event tersebut, ada 7 kategori juara stand pameran kursus yang diperebutkan sebanyak 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat dan Kabupaten Karawang mampu menyabet stand pameran terbaik kategori pendataan lembaga kursus.

Amid mengatakan, penghargaan ini berdasarkan penampilan stand lembaga kursus yang informatif kepada pengunjung. Pada pameran itu, ditampilkan semua LKP se-Karawang, diantaranya mekanik, tata rias, komputer, bahasa asing, termasuk batik.

"Kita tampilkan produk hasil LKP, dengan space yang terbatas kita bisa menampilkan melalui display atau tampilan data, tetapi tampilan stand kita terbaik dan informatif kepada pengunjung, makanya kita tebaik dalam penampilan data stand," tuturnya.

Selain juara itu, lanjut Amid, juga meraih penghargaan lainnya, diantaranya paduan suara juara harapan pertama yang dilakukan para pengelola LKP, kemudian deville kotingen LKP Karawang mendapat juara harapan dua, termasuk merias wajah juara harapan dua. Sedangkan jenis-jenis yang dilombakan diantaranya, stand terbaik, deville, paduan suara, menata kerudung diri sendiri, merias wajah diri sendiri, hiburan talk show dan kursus gratis.

Diketahui, kompetisi LKP ini upaya untuk meningkatkan mutu kapabilitas dan akses PNFI di Provinsi Jawa Barat. Acara yang digelar Himpunan Penyelenggaraan Pelatihan dan Kursus Indonesia (HIPKI) Provinsi Jawa Barat ini untuk menunjukan program-program lembaga kursus dan pelatihan, serta hasil kursus untuk menunjukan perannya yang memiliki kinerja, kompetensi dan profesi, sehingga dapat berdaya guna untuk masyarakat Jawa Barat yang mandiri, dinamis dan sejahtera.

Sementara itu di tempat terpisah, Ketua HIPKI Karawang, Didik Hudiana, ST. mengatakan, dia sangat mengapresiasi atas dukungan, baik materil dan moril dari Pemkab Karawang terutama dari Disdikpora Karawang melalui bidang PNFI, sehingga mampu mendorong semangat HIPKI Karawang untuk menyabet berbagai juara pada event tersebut.

“Kami berharap ke depan HIPKI semakin lebih baik dan mampu menjadi yang terbaik di tingkat Provinsi Jawa Barat, bahkan di tingkat nasional, sehingga mampu mengharumkan nama Kabupaten Karawang,” katanya. (tif)


Osis Dilibatkan Tingkatkan Disiplin

KARAWANG , Spirit
Untuk bisa meraih prestasi tinggi tentu diperlukan disiplin yang tinggi. Hal ini benar-benar dipahami oleh siswa SMPN 3 Karawang Barat. Oleh karena itu mereka menerapkan disiplin selama berada di sekolah. Bahkan, pengurus OSIS di sekolah tersebut rutin menggelar kegiatan Giat Disiplin Siswa (GDS) pada saat seluruh siswa yang akan memasuki area sekolah diperiksa kelengkapan seragam dan isi tas yang dibawa ke sekolah.

Seperti terlihat dari pantauan Spirit Karawang beberapa waktu lalu sebelum upacara hari Senin dimulai, nampak beberapa pengurus OSIS memeriksa seluruh siswa yang akan memasuki sekolah di gerbang. Adapun yang diperiksa seperti kaos kaki, isi tas, celana, dll.

"Kalau ada siswa yang membawa HP, rokok, celana ketat, dan tidak pakai kaos kaki langsung ditulis namanya dan kita serahkan ke guru BP," ungkap Ketua OSIS SMPN 3 Karawang Barat, Indri Melia wahyuni.

Indri mengatakan, siswa yang terbukti melanggar peraturan sekolah, maka akan diberikan peringatan dan sanksi oleh Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan. Sedangkan pengurus OSIS hanya mencatat siapa saja siswa yang melakukan pelangaran dari peraturan yang ditetapkan oleh pihak sekolah.

"Hukumannya biasanya siswa yang rambutnya panjang akan dipotong, kalo yang lainnya hukumannya macam-macam. Tapi yang pasti diberikan pengarahan agar lebih disiplin," terangnya.

Sementara itu pengurus OSIS lainnya, Dafit Hendrawan juga terlihat sangat bersemangat memeriksa perlengkapan siswa siswi yang memasuki gerbang sekolah. Menurutnya kegiatan itu sekaligus melatih dirinya agar terbiasa berdisiplin dimanapun berada.

"Ya kalau kita melanggar, kita juga sama akan dihukum. Jadi ini juga sekaligus mengingatkan diri sendiri untuk terus disiplin," ungkapnya.

Sementara itu, menurut Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 3 Karawang Barat, Darsono, sejak awal, para siswa harus dikenalkan dengan lingkungan sekolah yang menghargai dan menjunjung tinggi kedisiplinan. Sekolah harus bisa meyakinkanpada para siswa bahwa perilaku baik dan prestasi cemerlang hanya bisa diraihdengan kedisiplinan tinggi para siswa. 

Tanpa kedisiplinan, fungsi sekolah akan mandul dan potensi siswa akan terkubur, bahkan akan banyak siswa terlibat masalah. “Tanpa disiplin, sulit diraih prestasi belajar,” pungkasnya. (tif)


Tradisi Kekerasan Penyebab Tawuran Pelajar

KARAWANG, Spirit

Terjadinya tawuran antarpelajar yang akhir-akhir ini yang kembali marak terjadi di wilayah Kabupaten Karawang mengundang keprihatinan dari Ketua Komisi D DPRD Karawang, Pendi Anwar. Menurutnya, penyebab terjadinya tawuran antarpelajar diantaranya disebabkan tradisi turun-temurun kakak angkatan di sekolah.

“Ini permasalahan klasik yang terjadi pada generasi atau angkatan sebelumnya,” ucapnya kepada Spirit Karawang, Selasa (2/12).

Pendi menuturkan, banyak tawuran yang terjadi antarsekolah hanya karena dendam dari  alumni yang tidak terbalas dan akhirnya menjadi budaya turun temurun yang susah untuk dihapuskan atau dihilangkan dari sekolah tersebut. Apabila tawuran tetap ditumbuh-kembangkan di kalangan pelajar, maka akan menimbulkan dampak negatif berupa kerugian. Tidak hanya bagi mereka para pelajar dan sekolah yang bersangkutan, namun juga masyarakat sekitar.

“Ini menjadi sebuah pekerjaan rumah bagi semua elemen masyarakat yang peduli dengan pendidikan untuk dicarikan solusinya,” ujar politisi Demokrat ini.

Untuk itu, Pendi meminta kepada elemen Pemkab Karawang pemangku pendidikan, terutama Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Karawang agar berpikir dan bekerja keras untuk meminimalisir terjadinya tawuran antarpelajar dengan menoptimalkan satgas pelajar dan satgas anti tawuran pelajar yang baru dibentuk bertepatan dengan peringatan hari guru nasional pekan lalu.

“Kedua satgas yang sudah terbentuk itu dioptimalkan dengan menyisir daerah rawan yang sering terjadi tawuran antarpelajar usai jam sekolah,” imbuhnya.

Pendi pun kemudian memberi solusi agar tawuran antarpelajar bisa diminimalisir, yakni dengan merapatkan dua-tiga sekolah yang bermusuhan dalam satu kegiatan. Jika hal itu sering dilakukan, maka Pendi yakin lama-lama sekolah yang awalnya bermusuhan akan mencair menjadi sekolah yang bersahabat.

“Sebab akar permasalahan itu dari dendam lama turun-temurun dari kakak kelasnya, sehingga perlu dicairkan dengan mengakrabkan mereka dalam satu kegiatan” kata Pendi.

Saat disinggung perlunya sanksi administratif bagi sekolah yang siswanya sering terlibat tawuran berupa pelarangan menerima siswa baru selama satu tahun, Pendi menolaknya. Menurutnya, dia belajar dari kasus yang dialami Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, yang melarang sekolah yang siswanya sering terlibat tawuran menerima siswa baru selama satu tahun, tetapi kemudian keputusan Dedi berhasil digugat oleh sekolah tersebut melalui Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).
“Karena hal itu melanggar HAM,” tandasnya.

Oleh sebab itu, lanjutnya, solusi yang efektif untuk meredam terjadinya tawuran antarpelajar ialah sekolah-sekolah yang siswanya terlibat tawuran perlu menjalin komunikasi dan koordinasi yang terpadu untuk bersama-sama mengembangkan pola penanggulangan dan penanganan kasus.

“Ada baiknya diadakan pertandingan atau acara kesenian bersama di antara sekolah-sekolah yang secara tradisional bermusuhan itu,” pungkasnya. (tif).


FKIP Unsika Gelar Seminar Kepemimpinan

KARAWANG, Spirit
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unsika menggelar seminar tetang kepemimpinan di ruang rektorat 2 Unsika, Sabtu (29/11). Seminar yan bertajuk “Academic Leadership and Research Methodology in Education” itu diikuti oleh 90 dosen FKIP Unsika.

“Seminar ini untuk melatih dosen Unsika, khususnya FKIP, supaya lebih tahu lagi bagaimana metode penelitian dalam pendidikan. Selain itu untuk melatih jiwa kepemimpinan juga,” kata Ketua Panitia, Een Nurhasanah, kepada Spirit Karawang.

Seminar yang berlangsung dari pukul 10.00 WIB sampai 13.00 WIB itu, tambah Een, mengundang dua narasumber, yaitu Prof.Dr. H. Mustofa Kamil, m. Pd., dari UPI Bandung dan Prof. Dr. Ranbir Malik, MA., M.Ed., Ph.D., dari Australia.

“Dua narasumber itu sudah sangat kompeten. Jadi saya yakin para peserta seminar bisa mendapatkan ‘sesuatu’ setelah mereka mengikuti seminar ini,” kata Een lagi.

Prof. Dr. Ranbir Malik, MA., M.Ed., Ph.D, dalam seminarnya, menegaskan bahwa penelitian kualitatif lebih penting ketimbang penelitian kuantitatif. Pasalnya, menurut dia, penelitian kualitatif merupakan sebuah istilah yang memanyungi berbagai macam paradigma, pendekatan data, dan metode untuk analisis.

“Ketika seseorang menganut paradigma kualitatif, maka dia menyakini keseluruhan filosofi penelitian yang sangat kontras dengan penelitian-penelitian kuantitatif. Sekarang ini, penelitian-penelitian kualitatif tidak lagi dianggap sebagai metodologi yang remeh,” terangnya dalam bahasa Inggris.

Sementara itu, Prof.Dr. H. Mustofa Kamil, m. Pd. menerangkan bagaimana seorang pendidik bisa memiliki jiwa kepemimpinan yang baik. Menurutnya, kepemimpinan adalah kemampuan untuk melepaskan dan melibatkan potensi Sumber Daya Manusia (SDM) dalam mengejar visi dan misi lembaga.

“Selain itu kemampuan itu harus datang dari dalam unit akademik, didorong dan digerakkan dengan visi dan komitmen kepemimpinan akademik. Dan juga, pribadi kepemimpinan itu selalu menatap ke depan,” katanya.

Academic leadership sendiri menurut Mustofa Kamil adalah orang yang memiliki visi yang lebih luas ladangnya dan memiliki kekuasaan untuk membawa perubahan dalam bidang masing-masing. “Orang itu harus memiliki kekuatan komunikasi untuk memotivasi rekan-rekannya untuk berubah,” katanya lagi. Seminar itu dihadiri pula oleh Dekan FKIP, Dayat Hidayat dan Rektor Unsika Moh. Wahyudin Zarkasyi. (muh)

Tingkatkan Prestasi Belajar, SMAN 3 Pasang CCTV


KARAWANG, Spirit
Guna meningkatkan suasana belajar yang kondusif dan prestasi belajar siswanya, SMAN 3 Karawang kini menerapkan Close Circuit Television (CCTV) hampir diseluruh ruang kelas siswa dan ruang guru, serta beberapa titik sudut sekolah secara bertahap sejak awal tahun 2014 lalu. Hal itu diungkapkan Kepala SMAN 3 Karawang, Dra. Hj. Ai Hudjaemah Sopandi, M.Pd., kepada Spirit Karawang, disela-sela kesibukannya mengisi HUT ke-29 SMAN 3 Karawang, Sabtu (29/11).

Menurut Hj. Ai, dengan adanya CCTV yang kini terpasang ditiap ruang kelas siswa, keamanan dan kenyamanan siswa dalam proses pembelajaran semakin meningkat dan berdampak kepada peningkatan prestasi belajar siswa. Siswa yang tadinya sering main bola di dalam kelas dan sering duduk di atas meja saat jam istirahat, kini sudah tidak ditemukan lagi

“Jadi siswa semakin terkontrol sikap perilakunya baik di dalam kelas dan di luar kelas,” ucapnya.
Selain perilaku siswa, lanjutnya, dengan bantuan CCTV  perilaku gurunya pun ikut terkontrol terkait kerajinannya dalam mengajar. Guru yang rajin dan kurang rajin dalam mengisi pembelajaran di kelas akan terekam dengan CCTV dan pada akhirnya akan menjadi bahan evaluasi bersama.

“Dengan dipasangnya CCTV di dalam kelas, proses belajar mengajar juga lebih efektif, karena para siswa dan guru akan selalu merasa diawasi,” imbuhnya.

Dengan cara ini, lanjutnya, proses belajar mengajar akan lebih maksimal. Apabila ada guru yang terlambat mengisi jam mengajarnya, dia tinggal menelpon saja guru tersebut. Di samping itu, apabila ada siswa yang sedang ramai ataupun bermain handphone pada saat jam pelajaran, dia tinggal menelpon gurunya untuk melakukan peneguran pada siswa yang bersangkutan.

Oleh sebab itu, dia berharap dengan adanya CCTV di masing-masing kelas bisa meningkatkan minat belajar siswanya yang berjumlah hampir 1.500 yang tersebar ke 35 kelas yang ada. Sehingga, dari hal itu juga diharapkan dapat meningkatkan prestasi bidang akademis siswa berupa meningkatnya nilai prestasi belajar siswa.

“Dengan pemasangan CCTV ini, kami berharap prestasi anak-anak lebih meningkat lagi,” pungkasnya. (tif)



Semarak HUT ke-29 SMAN 3 Karawang

KARAWANG, Spirit
Hari Ulang Tahun (HUT) ke-29 SMAN 3 Karawang yang diselenggarakan pada Sabtu, 29 November 2014 berlangsung semarak. Para siswa SMAN 3 Karawang tumpah ruah merayakan hari kebahagian tersebut dengan penuh suka cita dan kegembiraan. Diantara mereka ada yang berpartisipasi mengisi event tersebut dengan berbagai pentas seni, seperti musikalisasi puisi, tarian modern, tari Jaipong, pentas drama atau teater dan penampilan musik angklung.

Event yang mengusung tema bermutu, berbudi pekerti luhur, beriman dan bertakw tersebut semakin semarak dengan dihadiri Kepala SMAN 3 Karawang, Dra. Hj. Ai Hudjaemah Sopandi, M.Pd., Ketua Komite SMAN 3 Karawang, H. Tajudin Noor, M.Si., dan perwakilan alumni SMAN 3 Karawang dari berbagai angkatan.                                                                                                                                                    
Kepala SMAN 3 Karawang, Dra. Hj. Ai Hudjaemah Sopandi, M.Pd., mengatakan, dalam perayaan HUT ke-29 SMAN 3 Karawang ini, dia merasakan kegembiraan dan kebanggaan yang luar biasa. Pasalnya, pada usia yang ke 29, SMAN 3 Karawang telah bertransformasi menjadi sekolah yang diperhitungkan di Kabupaten Karawang.

“SMAN 3 Karawang tidak hanya masuk hitungan, tetapi menjadi sekolah yang diperhitungkan di Karawang,” ucapnya kepada Spirit Karawang, Sabtu (29/11).

Oleh sebab itu, dia berharap prestasi dan prestise yang telah diraih SMAN 3 Karawang selama ini bisa dipertahankan, bahkan bisa ditingkatkan di masa akan datang. Selain itu, dengan semakin bertambahnya usia SMAN 3 Karawang, dia berharap para siswa SMAN 3 Karawang semakin religius, prestasi, aktif dan kreatif (Repreatif).

“Siswa SMAN 3 Karawang harus terdepan dalam hal repreatif tersebut,” katanya.

Senada dikatakan Ketua Komite SMAN 3 Karawang, H. Tajudin Noor, M.Si. Dia sangat mengapresiasi dan merasa bangga menjadi bagian dari keluarga besar SMAN 3 Karawang yang kini sudah menjadi sekolah yang diperhitungkan di Kabupaten Karawang. Tajudin merasa yakin jika di masa yang akan datang, SMAN 3 Karawang akan menjadi sekolah yang dibanggakan.

Oleh karena itu, dia berharap para pengelola SMAN 3 Karawang  bisa menciptakan kondisi internal yang kondusif, sehingga para guru merasa enjoy dan nyaman dalam menjalankan tugasnya membimbing siswanya sesuai harapan orang tua ketika kali pertama menitipkan anaknya ke pihak sekolah.

“SMAN 3 Karawang harus mampu hasilkan lulusan yang memiliki intelektual tinggi dan berbudi pekerti yang luhur,” imbuhnya.

Di samping itu, kepada para siswa SMAN 3 Karawang, Tajudin berpesan agar memanfaatkan waktu belajar di SMAN 3 Karawang dengan sebaik-baiknya supaya mampu bersaing di masa depan di Kabupaten Karawang. Pasalnya, di masa depan Kabupaten Karawang akan mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam hal pembangunan industri dan pertanian. Untuk bisa memenangkan persaingan tersebut, para siswa SMAN 3 Karawang harus dibekali ilmu pengetahuan dan teknologi yang mumpuni dengan disertai penguasaan bahasa asing, seperti bahasa Inggris, bahasa Perancis, bahasa Jepang dan bahasa Mandarin.

“Jika itu telah dimiliki semua oleh siswa SMAN 3 Karawang, maka saya yakin mereka akan mampu memenangkan persaingan global,” tuturnya.

Di tempat yang sama, Ketua OSIS SMAN 3 Karawang, Rizky Rahmatullah Hariri, mengatakan, dia sangat bangga bisa menuntut ilmu dan mengembangkan diri di SMAN 3 Karawang. Dengan bertambahnya usia, dia berharap ke depan SMAN 3 Karawang bisa terus eksis dan berkembang lebih maju.

“Semoga dengan bertambahnya usia bisa semakin memacu semangat untuk maju dan berprestasi,” pungkasnya. (tif)




Lapan Diminta Hasilkan Tekhnologi yang Terserap Industri

Bogor, Spirit
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M Nasir meminta Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional menghasilkan teknologi penerbangan dan keantariksaan yang bisa diserap sektor industri.

Dalam sambutan yang dibacakan Staf Ahli Menristek Bidang TIK dan Transportasi I Wayan Budiastra pada Sosialisasi dan Lokakarya Peningkatan Peran Lapan dalam Penyediaan Data dan Informasi Penginderaan Jauh untuk Mendukung Perencanaan Tata Ruang dan Kemaritiman di Rumpin, Bogor, Kamis, Menristek Dikti mengatakan untuk menjadi center of excellent tantangan bagi LAPAN adalah menghasilkan teknologi yang dapat dimanfaatkan industri.

"Pemerintah menginginkan lembaga-lembaga riset dan pengembangan teknologi yang mendapat dana dari pemerintah bisa mempertanggungjawabkan dengan hasil," katanya, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristek Dikti), ia mengatakan mengharapkan peningkatan kualitas riset, teknologi, hingga pelayanan sehingga dapat diakui pemangku kepentingan khususnya industri.

"Saya sambut visi LAPAN untuk menjadi Center of excellent Aviation Technology Indonesia di 2025," ujar dia.

Investasi riset untuk meningkatkan inovasi, ia mengatakan tentu penting di masa depan sebagai modal peningkatan daya saing nasional. Saat ini Indonesia berada di urutan ke-77 untuk urusan kesiapan teknologi, ke-46 untuk riset, dan ke-31 dari 144 negara untuk inovasi.

"Hanya lima persen hasil riset dapat dikomersialkan industri setiap tahunnya," ujar dia.

Karena itu, ia mengatakan LAPAN hendaknya bisa meningkatkan hasil riset dan pengembangan teknologinya sehingga dapat mendukung kemajuan industri yang sudah ada, dan memunculkan industri baru yang berkaitan dengan penerbangan dan keantariksaan.

"Litbangnya pun harus dikembangkan lebih profesional, sarana dan anggaran riset perlu ditambah. Untuk itu, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi akan mendukung dari sisi regulasi dan insentif," ujar dia.

Siswa SDN Pinayungan I Ikuti Pola Pendidikan

KARAWANG, Spirit
SDN Pinayungan I Kecamatan Telukjambe Timur sarat dengan berbagai prestasi yang pernah diraihnya, baik dalam bidang akademik dan non-akademik, seperti kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti siswanya.

Hal itu disampaikan Kepala SDN Pinayungan I, Yati Sumiyati, beberapa waktu lalu.

Kepala Sekolah SDN Pinayungan I Yati Sumsiyati mengakui, keberhasilan siswanya tidak lain berkat keseriusan siswa didiknya dalam mengikuti pola pendidikan yang disampaikan guru. Selain itu, tingkat persaingan yang tinggi di lingkungan sekolah menambah motivasi anak-anak untuk selalu memacu semangat untuk terus belajar.

“Untuk mendukungnya pihak sekolah juga memberikan  bimbingan khusus bagi siswa yang berminat. Selain itu kita juga menerapkan kegiatan ekstrakurikuler sesuai hobi siswa,” ujarnya.

Dalam perlombaan akademik tingkat sekolah dasar (SD) wilayah Unit Pelaksana Teknis dinas (UPTD) Tk/SD Kecamatan Teluk Jambe Timur beberapa waktu lalu berhasil mendapatkan beberapa prestasi akademik diantaranya yaitu, Juara I Pildacil, Juara I Calistung Kelas II, Juara II Matermatika putra, juara IV pidato Bahasa Indonesia dan peringkat keenam dalam perlombaan siswa berprestasi.

Penerapan tersebut menurut Yati, sangat efektif dan berkelanjutan hingga ke tahun pendidikan berikutnya, kreativitas atau bakat selalu dimiliki oleh semua orang dan setiap orang memiliki bakat dan kreativitas yang berbeda-beda. Baik dari segi fisik, kecerdasan hingga berfungsinya indra keenam.

“Untuk itu selaku guru dan kepala sekolah harus bisa mengembangkan potensi yang ada di peserta didik,” katanya.

Dalam suatu lembaga, kata Yati, ada peraturan yang melandasi lembaga tersebut, karena peraturan tersebut merupakan suatu batasan agar tidak menyalahi yang sudah ditetapkan di sekolah, hanya apabila siswa tersebut ingin menunjukkan suatu kreativitasnya, maka dirinya selaku kepala sekolah selalu memfasilitasi siswa agar bisa berekspresi.

“karakter dan kreativitas siswa tentu sangat diperlukan apalagi saat ini masih dalam usia dini, otamatis perlu skill dan kemampuan sehingga bisa bermanfaat dimasa yang akan dating,” ujarnya. 

Diakuinya, siswa-siswi di SDN Pinayungan I mempunyai keterampilan yang harus dikembangkan, oleh karena itu dirinya dan gura-guru lainya akan selalu memberi motivasi bagi siswa-siswi yang ada di sekolah tersebut, untuk meraih prestasi-prestasi yang lebih banyak lagi.

“Tentunya agar terus bisa berprestasi, mereka harus senantiasa dibimbing dan dibina untuk tingkatkan prestasinya,” pungkasnya. (tif)

SMA Yos Sudarso Raih Juara II Debat Bahasa Inggris


KARAWANG, Spirit
Tim debat bahasa Inggris siswa SMA Yos Sudarso yang terdiri dari Andre Leonardo Angkawijaya, Marcellina Indah Permatasari dan Bernadetha Kusuma mampu meraih juara II dalam lomba Karawang School Debating Championship (KSDC) tingkat SLTA yang diselenggarakan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) bahasa Inggris Karawang di SMAN 5 Karawang beberapa waktu lalu.
“Kami ada persiapan khusus sebelum mengikuti lomba tersebut,” ucap Marcellina Indah Permatasari yang pada waktu lomba debat tersebut bertindak sebagai 2nd Speaker.

Dikatakan Marcellina, persiapan khusus tersebut diantaranya ialah mempersiapkan motion atau tema debat yang telah disediakan pantia lomba dan latihan lomba dengan simulasi, yakni mengkondisikan seakan mereka sedang mengikuti lomba sesungguhnya dengan segala mekanisme dan peraturannya. Dengan diadakannya simulasi lomba yang mereka ikuti membuat mental dan rasa percaya diri mereka terbentuk dengan baik.

“Jadi kita sudah tidak kaget saat mengikuti lomba yang sebenarnya, karena sudah terbiasa dengan simulasi lomba,” ujar siswi kelas XI MIA.

Sementara itu, rekan Marcellina dalam tim debat bahasa Inggris yang bernama Bernadetha Kusuma menambahkan, sebelum perlombaan mereka digembleng dengan mempelajari materi debat bahasa Inggris dengan latihan sebanyak empat hari dalam satu minggu dengan melibatkan siswa lain sebagai sparing partner.

“Latihannya itu pada tiga jam terakhir pelajaran sekolah dengan alokasi waktu 125 menit,” ujar siswi kelas X MIA yang bertindak dalam lomba tersebut sebagai 3rd Speaker.

Diakui rekan Marcellina, Andre, ada kendala ketika mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba debat tersebut, yakni dalam hal pengucapan yang tepat dan benar dalam bahasa Inggris dan memperiapkan mental yang kuat agar bisa tampil prima saat perlombaan berlangsung. Selain itu, motion juga bagian dari kendala yang harus mereka taklukan.

“Tetapi setelah kita sering diskusi dan browsing ke internet, kendala-kendala tersebut bisa kita atasi,” imbuh Andre siswa kelas XI MIA yang bertindak sebagai 1st Speaker dalam lomba debat tersebut.

Sementara itu, Pembina dan guru bahasa Inggris SMA Yos Sudarso, Dra. Rumida Girsang, berharap, agar siswanya yang telah meraih juara II dalam KSDC bisa terus meningkatkan motivasinya untuk meraih prestasi yang lebih baik di tingkat provinsi hingga tingkat internasional.

“Jangan berhenti dan cepat puas atas prestasi yang telah diraihnya, tetapi agar terus ditingkatkan prestasinya,” pungkasnya. (tif)



Kemendikbud akan Bentuk Ditjen Pengelolaan Guru


Jakarta, Spirit
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) berencana membentuk satu direktorat jendral (ditjen) yang khusus menangani masalah pengelolaan guru sehingga mulai dari pendataan, rekrutmen, hingga pembinaan tidak lagi ditangani oleh masing-masing ditjen seperti saat ini.

"Soal pengelolaan guru nanti akan dikembalikan pada satu direktorat jendral, semua guru, mulai dari TK, SD, SMP, dan SMA/SMK. Nanti akan dikumpulkan tidak seperti sekarang ini berada di masing-masing Ditjen PAUDNI, Ditjen Dikdas dan Ditjen Menengah," ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, seusai membuka Seminar Pendidikan "Mewujudkan Revolusi Mental melalui Penguatan Peran Strategis Guru", di Gedung Kemdikbud, Rabu.

Menurut Anies, Presiden Joko Widodo sudah menerima usulan PGRI terkait pembentukan Direktorat Jendral (Ditjen) Khusus Guru. "Itu janji kampanye Presiden Jokowi. Kami selaku menterinya tentu harus melaksanakan apa yang sudah dijanjikan beliau. Bapak Jokowi tidak ada masalah, maka tinggal dijalankan saja,"ujarnya.

Ia mengatakan Soal pembinaan guru dan pengembangan guru, nanti akan bekerja sama dengan Kemenristek Dikti. Karena, pengelolaan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) sebagai penghasil guru berada di bawah koordinasi Kemenristek dan Dikti.

"Dengan dibentuk satu ditjen yang mengurusi guru, pengelolaannya diharap akan lebih terarah dan efektif. Tersebarnya pengelolaan guru yang selama ini menjadi tidak efisien. Intinya, soal pembinaan guru termasuk pengembangannya nanti semua ada di satu direktorat," ujarnya.

Selain itu, nantinya juga berkoordinasi dengan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB), untuk merumuskan kriteria rekrutmen guru. Jadi satu Ditjen dipakai untuk semua. Kalau kemarin kan urusan guru dikelola banyak Ditjen," ujarnya.

Meski demikian, dirinya menegaskan peran dan kewenangan pemerintah daerah dalam pengelolaan dan pembinaan guru tetap harus diperkuat. "Untuk urusan guru, pemerintah daerah nantinya berurusan tidak perlu banyak pintu, hanya satu pintu. UU otonomi daerah juga menggariskan bahwa sekolah dan kepegawaian guru dibawah daerah," ujar Anies.

Sementara itu, Ketua Umum PB PGRI Sulistiyo menyambut baik upaya pemerintah untuk membentuk ditjen yang khusus mengurusi masalah guru. Karena menurut dia, selama ini pembinaan guru yang diurus oleh banyak direktorat justru menimbulkan tumpang tindih data dan dinilai tidak efektif.

"Saya optimistis pemerintah akan segera membentuk ditjen pengelolaan guru. Ini juga usulan PGRI agar guru dikelola khusus oleh satu direktorat. Semoga lebih efektif, efisien, tidak tumpang tindih, dan semua data bisa ditata dengan baik," katanya.

Lebih lanjut dikatakannya selama ini banyak persoalan guru secara keseluruhan yang tidak rampung. Hal itu disebabkan karena dikoordinir masing-masing direktorat.

Sulistiyo mencontohkan ada beberapa model pendataan guru, ada yang namanya NUPTK, Dapodik, dan Padamu Negeri. "Dengan demikian, hasil data guru juga berbeda-beda, sehingga data guru tidak diketahui dengan pasti," ungkap Sulistiyo.

Ia berharap ke depan akan ada aturan yang lebih jelas tentang pengelolaan guru. "Ketika membuat standar dan regulasi bisa lebih jelas. Sekarang ini masing-masing direktorat menerbitkan aturan masing-masing.

Guruku Pahlawanku

KARAWANG, Spirit
Seseorang disebut sebagai pahlawan tidak semata mengangkat senjata melawan penjajah, tetapi seseorang bisa disebut sebagai pahlawan juga jika mampu mamberantas kemiskinan dan kebodohan, seperti yang telah dilakukan seorang guru kepada anak didiknya. 

Itu lah ungkapan yang disampaikan dua siswi berprestasi dari SMK Bhinneka Karawang, Iin Rosita dan Reni Nuraeni, kepada Spirit Karawang, Rabu (25/11), dalam rangka menyambut Hari Guru Nasional.

Menurut Iin (15), guru adalah seorang figur yang merefleksikan segalanya, karena guru merupakan jendela dunia yang mengajarkan dia berbagai pengetahuan. Selain itu, guru merupakan orang tua kedua baginya yang harus dipatuhi dan dilaksanakan perintahnya, karena Iin yakin apa yang diperintahkan oleh gurunya pasti mengandung manfaat.

“Yang disebut orang tua tidak semata orang yang telah menyebabkan kita terlahir dunia, tetapi juga orang yang telah membimbing dan membina kita untuk menjadi orang yang berguna,” ucapnya siswi yang selalu meraih rangking pertama di kelas sejak duduk di kelas X ini.

Diakui Iin, guru memang seorang pahlawan tanpa tanda jasa, karena guru tidak pernah meminta ilmunya dikembalikan atau dinilai dengan materi. Dengan jasa seorang guru lah seseorang bisa membaca, menulis dan berhitung. “Tanpa jasa seorang guru, mustahil kita bisa sukses,” ujar siswi penikmat seni teater ini.

Oleh sebab itu, lanjut Iin, di hari guru ini dia ingin menyampaikan sebuah doa harapan kepada segenap gurunya agar mereka selalu diberikan kesehatan dan mendapatkan kebahagian di dunia dan di akhirat kelak.

Senada dikatakan Reni, guru merupakan orang tua kedua di sekolah setelah orang tua kandung di rumah yang selalu membimbing dan mengajak siswanya untuk menjadi pribadi yang baik, sehingga layak guru diberi gelar pahlawan tanpa tanda jasa. “Guru dengan ikhlas membagi ilmunya tanpa mengaharap kita membalas kebaikan mereka,” ujar Ketua Osis SMK Bhinneka ini.

Di hari guru ini, kata Reni, dia berharap guru di sekolahnya senantiasa bisa bersabar dalam mendidik dan menghadapi siswanya yang nakal, mau meluangkan banyak waktunya untuk mendengarkan aspirasi dan curhat siswanya dan selalu memperhatikan siswanya. (tif)


Toyota Latih 38 Guru Produktif Otomotif


KARAWANG, Spirit
Guna meningkatkan pemahaman guru produktif otomotif SMK terhadap knowledge produk teknologi Toyota, perusahaan automotif terkemuka, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMI) yang berlokasi di kawasan industri KIIC Karawang melalui Auto 2000 Karawang mengadakan pelatihan 38 guru produktif otomotif SMK di SMKN 1 Karawang yang dimulai sejak 17-29 November 2014.

Menurut Technical Leader Auto 2000, Sariyanto, sebelum bantuan dari PT TMMIN berupa sebuah mobil untuk 19 SMK yang tersebar di Kabupaten karawang, maka perlu diadakan pelatihan knowledge product mobil tersebut kepada guru produktif otomotif SMK bersangkutan. Sehingga, ketika mobil tersebut sudah diterima oleh SMK bersangkutan, mereka dapat mengoperasikan dan mentransfer knowledge product mobil Toyota kepada peserta didiknya.

Masih menurut Sariyanto, pelatihan guru produktif dan pemberian mobil produk PT TMMIN merupakan bentuk tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR untuk meningkatkan kualitas SDM masyarakat melalui pendidikan, sehingga semua biaya pelatihan guru produktif tersebut ditanggung seluruhnya oleh PT TMMI.

“Dengan adanya pelatihan ini, maka bisa menjembatani antar dunia industri dan dunia pendidikan,” ucapnya kepada Spirit Karawang, Rabu (26/11). Dikatakan Sariyanto, selama ini terdapat gap knowledge product antara dunia industri dan dunia sekolah. 

Oleh sebab itu, dengan adanya program pelatihan guru produktif tersebut diharapkan gap tersebut bisa diminimalisir, sehingga knowledge product yang dimilik perusahaan sama dengan knowledge product yang dimiliki sekolah. “Jadi siswa yang sekolah di SMK yang mendapatkan bantuan CSR PT TMMIN bisa langsung bekerja tanpa mengalami kesulitan,” ujarnya. 

Senada dikatakan Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Industri SMKN 1 Karawang, H. Chaerudin, S.Pd., MM. Menurutnya, pelatihan guru produktif otomotif SMK yang berjumlah 38 guru dari 19 SMK ini merupakan tahap awal yang harus dijalani sebelum mereka mendapat bantuan mobil dari PT TMMIN.

“Sebelum kendaraannya datang, pengetahuan teknologinya dahulu yang harus dipahami oleh mereka,” ucapnya. Dikatakan H. Chaerudin, dari 38 guru produktif tersebut, pelatihannya dibagi menjadi empat kelompok yang tiap kelompoknya terdiri dari 8-10 guru dan masing-masing kelompok akan menjalani pelatihan selama tiga hari.

Dijelaskan H. Chaerudin, program pelatihan guru tersebut merupakan bentuk CSR PT TMMIN terhadap dunia pendidikan SMK di Kabupaten Karawang. bentuk bantuan CSR tersebut berbentuk barang dan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kualitas SDM guru.

Setelah diadakannya pelatihan ini, lanjutnya, dia berharap diklat ini tidak hanya sampai pelatihan guru, tetapi terus berlanjut pada teknologi-teknologi terbaru dari PT TMMIN ke depannya dan diharapkan pula setelah guru mentransfer ilmunya kepada peserta didik akan ada lomba kompetensi siswa dalam bidang teknologi Toyota, sehingga akan diketahui sejauh mana manfaat adanya pelatihan guru produktif oleh PT TMMIN.

“Dari lomba tersebut akan diketahui sekolah mana yang serius memanfaatkan bantuan CSR PT TMMIN,” pungkasnya. (tif)



Guru akan Diberi Penghargaan


KARAWANG, Spirit
Sebagai bentuk penghargaan terhadap peran dan kontribusi guru dalam mendidik dan membina generasi bangsa, pemkab Karawang menjanjikan akan memberikan penghargaan atau reward kepada guru pada tahun anggaran 2015. Demikian dikatakan Wakil Bupati Karawang, dr. Cellica Nurrachadiana, kepada Spirit Karawang, Selasa (25/11). 

Dikatakan, pemberian penghargaan merupakan suatu yang logis, karena sejak awal sudah dipahami bahwa guru memiliki peran penting guru pembelajaran guna mencerdaskan anak bangsa. Untuk menghasilkan generasi bangsa yang berkualitas, kata Cellica, tentu memerlukan guru yang berkualitas dan guru yang berkualitas perlu didukung dengan perhatian atas kesejahteraannya.

“Reward ini semoga bisa memacu kinerja mereka dalam mendidik anak bangsa,” ucapnya. Saat disinggung penghargaan apa yang diberikan guru, Cellica tidak mejawabnya secara detail. Namun penghargaan yang akan diberikan atas nama Pemkab Karawang merupakan usulan yang sudah disampaikan melalui organisasi profesi guru, yakni PGRI Cabang Karawang yang diketuai Nandang Mulyana.

“Pokoknya ada reward khusus di dalam tahun anggaran 2015,” imbuhnya. Dipaparkan Cellica, Pemkab Karawang dan penyelenggara pendidikan tidak akan pernah berhenti berupaya untuk selalu meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan guru secara bertahap dan berkesinambungan. Adanya tunjangan fungsional dan sertifikasi guru, lanjutnya, merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan guru.

“Alhamdulillah hari ini setelah saya cek, tunjangan sertifikasi guru sudah cair semua,” ungkapnya.

Diharapkan Cellica, dengan adanya perhatian pemerintah dalam meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan guru, guru bisa menjalankan tugasnya dengan baik dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Selain itu, Cellica juga mengajak kepada guru untuk menjadikan Hagunas ini sebagai momentum untuk menjadikan pendidikan sebagai pilar utama dalam mencapai kemajuan dan kejayaan bangsa.

“Guru memiliki peran penting dalam upaya mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul,” tegasnya.

Sebelumnya, Ketua PGRI Cabang Karawang, Nandang Mulyana, mengatakan, jika PGRI Cabang Karawang sudah mengusulkan kepada pemkab Karawang dan Komisi D DPRD Karawang agar menaikan tunjangan transport guru dari Rp300 ribu menjadi Rp500 ribu pada tahun anggaran 2015. Kenaikan tunjangan itu, kata dia, sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan guru yang akan berimbas kepada peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Karawang. (tif)


Semarakkan Hari Guru, SMK Bhinneka Gelar Pentas Seni


KARAWANG, Spirit
Guna menyemarakkan Hari Guru Nasional (Hagunas) dan Hari Ulang Tahun ke-69 PGRI serta mengembangkan bakat seni yang dimilik siswanya, SMK Bhinneka Karawang menggelar pentas seni drama, tari Jaipong dan tarian modern serta lomba membuat nasi tumpeng. 

Kepala SMK Bhinneka Karawang, Eli Chuaeri, S.Pd., mengatakan, pihaknya sengaja menggelar rangkaian acara tersebut untuk meningkatkan minat siswa terhadap seni dan budaya.  Dikatakan Eli, dalam pembelajaran perlu adanya waktu luang yang digunakan untuk menyegarkan suasana dan pikiran siswa yang diaplikasikan melalui penampilan seni dan budaya. Sebab, jika siswa selalu disibukkan dengan pembelajaran yang bersifat akademik, maka dikhawatirkan bakat seni siswa tersebut akan tenggelam.

“Dengan adanya lomba pentas seni ini, maka bakat seni siswa akan berkembang dan siswa tidak akan stres,” kata Eli kepada Spirit Karawang, Selasa (25/11).

Selain itu, lanjut Eli, pada saat banyak sekolah lain diliburkan ketika di Hagunas, maka lebih baik diadakan lomba pentas seni bagi siswa sebagai bagian dari pembelajaran non-akademik dibanding siswa tidak memiliki aktivitas lainnya.

Adanya lomba pentas seni ini, kata Eli, sangat erat sekali hubungannya dengan momentum Hagunas. Pasalnya, adanya lomba pentas seni merupakan keinginan dari siswa untuk memberikan kado dan hiburan bagi gurunya sebagai bukti bakti siswa kepada gurunya pada saat Hagunas.

“Ini semua gagasan dari siswa untuk memberikan kado berupa kreatifitas siswa untuk gurunya,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK Bhinneka Karawang, Drs. H. Emat Rahmatillah, mengatakan, diadakannya lomba pentas seni bertujuan agar siswa memiliki mental berani untuk tampil di muka umum. Sebab, dengan membiasakan siswa tampil di depan umum, maka siswa tersebut lambat laun akan berani menyampaikan semua aspirasinya di depan umum tanpa perasaan canggung dan gugup.

“Bentuk kesenian seperti drama mampu mengembangkan kepribadian anak. Hal itu akan membangun rasa percaya diri dan membuat anak disiplin,” imbuhnya.

Dikatakan H. Emat, dengan diadakannya lomba pentas seni, termasuk drama, yang bertepatan dengan Hagunas, siswa ingin menyelami peran dan kontribusi guru dalam mendidik generasi bangsa melalui peran mereka sebagai guru dalam pentas drama yang mereka mainkan.

Di Hagunas ini, lanjutnya, dia berharap guru senantiasa meningkatkan mutu pembelajaran dan menjadi suri tauladan bagi siswanya, baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah, sebagaiman yang sudah didengungkan oleh Ki Hajar Dewantara melalui semboyannya, yakni Ing Ngarso Sun Tulado yang artinya menjadi guru atau pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan yang baik bagi orang lain, Ing Madyo Mbangun Karso yang artinya jika guru atau pemimpin berada di tengah, maka harus mampu membangkitkan semangat orang lain, dan Tut Wuri Handayani yang artinya jika guru atau pemimpin berada di belakang, maka harus mampu menjadi pendorong bagi orang lain.
“Sehingga siswa akan terus merasakan semangat dalam pembelajaran,” pungkasnya. (tif)


Program RKB Tak Tepat Sasaran


KARAWANG, Spirit
Sejumlah kalangan menilai program penambahan Ruang Kelas Baru (RKB) yang dilakukan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Karawang, tidak tetap sasaran. Pasalnya, banyak sekolah yang membutuhkan ruang kelas baru tidak mendapat program tersebut. Sebaliknya, banyak juga sekolah yang telah memiliki banyak ruang kelas mendapat program tersebut.

“Banyak sekolah yang kondisinya masih bagus dan masih layak pakai, tapi sudah mendapat bantuan rehab, sedangkan sekolah yang sudah tidak layak pakai tidak disentuh sedikitpun, ini ada apa sebenarnya,” ucap Kepala SDN Balonggandu I, Kecamatan Jatisari, Wartono, S.Pd., kepada Spirit Karawang, Selasa (25/11).

Pihak yang menentukan sekolah mana mendapat program RKB, tambah Tono, adalah pihak konsultan serta Kabid Sarana dan Prasarana Disdikpora Karawang. “Harusnya ada skala prioritas, mana sekolah yang lebih layak mendapat rehab, mana sekolah yang layak mendapat RKB. Sekolah kami misalkan, baru tahun ini mendapat rehab sejak tahun 1991, itupun hanya 3 ruang kelas, tidak semuanya. Namun ada sekolah yang masih baru malah mendapat anggaran rehab, dan juga mendapat RKB,” katanya.

Diungkap Tono, atas keadaan tersebut banyak kepala sekolah yang protes. Untuk itu, Tono meminta diberlakukan objektifitas penilaian baik yang dilakukan konsultan maupun dinas pendidikan. Harapan lainnya, tahun anggaran selanjutnya tidak lagi terjadi sekolah rusak tidak dapat sedangkan sekolah bagus mendapat program tersebut.

“Di SDN Baloggandu I aktifitas belajar mengajar dilakukan dengan sistim shift lantaran sekolah ini hanya punya delapan ruang kelas, sedangkan jumlah rombongan belajar ada 14, tidak sebanding. Jadi ada kelas pagi dan kelas siang,” tuturnya.

Kendala diberlakukannya sistim sekolah pagi dan siang, kata Tono, merugikan siswa yang kebagian sekolah siang. Pasalnya, dengan adanya aturan bagi siswa SD yang akan melanjutkan ke SMP harus menyertakan ijazah madrasah. Sementara sekolah madrasah dibuka pada siang hari, sehingga waktunya berbenturan.  “Ini jelas jadi kendala. Karena mulai efektif  tahun kemarin masuk SMP itu  ada persyaratan harus mencantumkan ijazah Madrasah (DTA),” tegasnya.

Sementara itu, Ketua PC IPNU Kabupaten Karawang, Ahmad Jamaludin mendesak Disdikpora Karawang melakukan skala prioritas dalam pembangunan sarana pendidikan. Pasalnya, pembangunan-pembangunan sekolah dasar (SD) di Karawang dinilai tidak merata dan cenderung timpang.

“Aneh Disdikpora ini, banyak SD yang kondisinya lebih parah tapi yang dibangun yang tidak lebih parah. Ini terlihat adanya ketidak profesionalan kinerja dalam tubuh disdik,” ujar Jamal.
Hal tersebut membuat adanya kecemburuan sosial, sehingga membuat tidak kondusif diinternal Disdikpora tersebut, atas dasar itu juga persoalan-persoalan dalam tubuh kedinasan itu semakin berkembang saja.

“Kalau kondisinya tidak baik, maka akan menganggu KBM, dan pastinya juga yang jadi korbannya adalah para peserta didik, ini yang sangat tidak diharapkan,” imbuhnya.
Padahal, lanjutnya, para peserta didik ini menjadi investasi jangka panjang untuk menatap masa depan lebih baik. Tapi, karena fasilitas belajarnya tidak baik, membuat hasil pendidikan Karawang tidak baik juga.

“Pertama karena kondisi ruangan yang rusak membuat KBM tidak nyaman, kemudian guru yang mengajar juga tidak semangat. Efeknya peserta didik tidak mendapat pembelajaran sesuai yang diharapkan dan ditargetkan,” terangnya.

Dia mencontohkan, di SDN Barugbug II di Desa Barugbug, Kecamatan Jatisari, para peserta didik dipaksa belajar di tempat yang tidak representatif. “Ini terlihat adanya diskriminasi yang dilakukan diinternal kedinasan itu. Karenanya, peran pengawasan yang dimiliki oleh DPRD juga ini sangat dibutuhkan. Bukankah SDN Barugbug II itu sudah banyak dikunjungi, baik itu dari unsur pemerintah, DPRD bahkan Kemendikbud sendiri, tapi setelah kunjungan itu sampai hari ini tidak ada perubahan,” kata Jamal.

Berdasarkan pantauan Spirit Karawang, kondisi tersebut terjadi bukan hanya di SDN Balonggandu saja, di beberapa SD lainnya di Kecamatan Jatisari, Kecamatan Kotabaru, Kecamatan Cikampek dan Kecamatan Tirtamulya juga dilakukan hal serupa, yaitu kegiatan belajar mengajar (KBM) dilakukan 2 shift.

Sementara itu, Kepala Kadisdikpora Karawang, Agus Supriatman belum bisa ditemui, dan ketika Spirit Karawang mencoba menghubungi telepon genggam miliknya tidak aktif. (gus)


Satgas Anti Tawuran Pelajar Dibentuk

KARAWANG, Spirit
Aksi tawuran antarpelajar yang terjadi akhir-akhir ini di wilayah Kabupaten Karawang dirasa cukup mengkhawatirkan berbagai pihak, termasuk pihak Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga dan Polres Karawang. 

Oleh sebab itu, guna meminimalisir terjadinya kembali tawuran antarpelajar, Disdikpora Karawang dan Polres Karawang bersinergis membetuk
satuan tugas (Satgas) anti tawuran pelajar bertepatan dengan diperingatinya Hari Guru Nasional (Hagunas) dan HUT ke-69 PGRI di lapangan Karang Pawitan, Kecamatan Karawang Barat, Selasa (25/11).

Menurut Kaplores Karawang, AKBP Daddy Hartady, dasar pembentukan satgas anti tawuran sebagai upaya untuk antisipasi makin meluasnya tawuran antarpelajar yang hampir sering terjadi di wilayah teritorial Polres Karawang, sehingga satgas tersebut memiliki fungsi dan tujuan untuk mengintensifkan, mengefektifkan dan mengefesiensikan dalam menangani terjadinya tawuran antarpelajar.

“Dengan adanya satgas ini, diharapkan kita bisa lebih mengkomprehensifkan lagi dalam penanganan kasus tawuran antarpelajar,” ucapnya seusai menghadiri upacara peringatan Hari Guru Nasional, Selasa (25/11).

Diakui Daddy, statistik kasus tawuran antarpelajar di wilayah Kabupaten Karawang masih dinilainya dalam tataran normal, yakni dalam seminggu walau tidak sering ada saja kasus tawuran antarpelajar terjadi. Oleh karena itu, dengan adanya satgas tersebut, kasus statistik terjadinya tawuran antarpelajar bisa ditekan serendah mungkin.

“Tugas satgas ini kan tidak hanya menangani kasus tawuran, tetapi juga bisa difungsikan untuk mengawal pelajar pulang seusai sekolah,” imbuhnya.

Sementara itu, Kabid Pemuda dan Olahraga Disdikpora Karawang yang juga Ketua Ormas Pemuda Pancasila Karawang, Rahmat Gunadi, M.Pd., mengatakan, secara internal di Disdikpora Karawang sudah terbentuk satgas pelajar yang bersisikan anggota dari unsur Disdikpora dan masyarakat, namun ketika Kapolres Karawang menilai kasus tawuran antarpelajar sudah berada pada tahap cukup mengkhawatirkan, maka muncullah gagasan untuk membentuk satgas anti tawuran pelajar.

“Kapolres menilai satgas yang sudah terbentuk tidak cukup bersikan dari Kasat Binmas, tetapi perlu juga dilibatkan dari unsur Reskrim dan Intel,” ucapnya.

Diakui Gunadi, eskalasi tawuran antarpelajar akhir-akhir dirasa sudah sangat mengkhawatirkan dan sudah meluas diberbagai tingkat kalangan pelajar, baik di SD, SMP dan di SMA/SMK. Oleh sebab itu, lanjutnya, permasalahan harus menjadi perhatian semua kalangan, termasuk pihak orang tua siswa yang harus memperhatikan secara seksama perihal sikap dan perilaku anaknya.

“Orang tua harus lebih meningkatkan pengawasannya kepada anaknya agar tidak terlibat dalam kasus tawuran antarpelajar,” tegas Gunadi.

Sebelumnya, sehari menjelang peringatan Hagunas, Senin (24/11), puluhan siswa SMK kepergok akan melakukan tawuran. Namun, niat tawuran tersebut berhasil digagalkan oleh satuan Dalmas Polres Karawang dan dari puluhan siswa SMK yang hendak tawuran tersebut hanya lima yang berhasil diamankan. Bahkan, satu diantaranya kedapatan membawa senjata tajam jenis pisau daging. (tif).


Anggaran Rehab Ruang Kelas Disunat



SUBANG,Spirit
Beberapa pengelola sekolah dasar negeri di Kabupaten Subang membenarkan telah terjadi pemotongan anggaran sebesar 10 persen dari anggaran bantuan rehab ruang kelas dengan sumber anggaran dari Dana Alokasi Khusus (DAK).  

Bendahara pengelola pembangunan rehab di salah satu sekolah dasar di Kecamatan Cijambe, membenarkan adanya uang DAK yang dikeluarkan sebesar 10 persen dari total anggaran yang diterima. Uang tersebut dikeluarkan oleh kepala sekolah. Sedangkan penerimanya belum diketahui, dan isyu yang berkembang dikalangan aktifis dan pewarta, uang tersebut diterima oleh oknum di Dinas Pendidikan Subang. 

Sumber Spirit Karawang pun mengaku heran. Seharusnya uang tersebut dipergunakan seluruhnya untuk rehab kelas, bukan yang lainnya. “Kami pun merasa heran, kok masih terjadi di era repormasi, padahal dana sebesar itu kan harus dipertanggungjawabkan secara administrasi. Namun kami yang namanya bawahan wajib menuruti perintah pimpinan,” katanya. 

Sementara itu, Heri Juhamin, seorang kepala sekolah Eglasari di Desa Cimenteng membenarkan adanya pemotongan anggaran rehab sekolah dari DAK. “Sebenarnya bukan diminta, namun hasil komitmen awal. Jika tidak mengkuti permainan seperti itu, sekolah manapun tidak akan mendapat bantuan karena anggaran yang terbatas sedangkan setiap sekolah membutuhkan rehab bangunan,” jelasnya. 

Heri mengaku sekolahnya mendapat bantuan sebesar Rp 130 juta yang akan dipergunakan pembangunan perpustakaan dan pengadaan mebelair. Dari 130 juta, kata Heri, pihaknya baru menerima 40 persen atau Rp 52 juta. 

“Mungkin setelah cair yang terakhir (termin terakhir), baru kami akan menyerahkan uang tersebut. Namun saya akan menanyakan terlebih dahulu kepada kepala sekolah yang telah menyetorkan uang tersebur, tentang siapa uang ini disetor, jangan sampai nanti salah ngasih,” kata Heri. 

Ditemui di tempat terpisah, Kepala Seksi Sarana dan Prasarana pada Dinas Pendidikan Kabupaten Subang, Karyono S.pd., menjelaskan, sekolah yang mendapat anggaran rehab ruang kelas ada yang dikerjakan oleh rekanan alias pihak ketiga, ada juga yang dikerjakan secara swakelola. “Yang dikerjakan dengan swakelola  itu ada 95 sekolah yang mendapat rehab bangunan yang dilaksanakan oleh komite sekolah karena  sumber danannya berasal dari Dana alokasi Khusus (DAK),” tuturnya.

Ditegaskan Karyono, dirinya tidak mengetahui isyu tentang pungutan 10 persen. “Pekerjaan saya itu di tatanan administrasi saja, jadi tidak tahu tentang isyu itu,” pungkasnya. 

Pada kesempatan lain, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Subang, H E Kusdinar mengaku telah mendapat informasi terkait permasalahan tersebut. Kusdinar mengaku akan melakukan penelusuran di lapangan untuk membuktikan kepada siapa uang 10 persen dari nilai anggaran rehab ruang kelas DAK itu diberikan. (Ade)

Semarak Hut PGRI dan Hari Guru di Kutawaluya


KUTAWALUYA,Spirit
Upacara peringatan Hari Guru Nasional dan Hari Ulang Tahun PGRI ke 69 tahun 2014 di tingkat Kecamatan Kutawaluya, dilaksanakan dengan sangat meriah di lapangan bola Desa Sampalan, Sabtu (22/11). 

Selesai upacara bendera, panitia acara menggelar berbagai macam lomba. Mulai dari lomba gerak jalan, tarik tambang, bola voly, balap karung hingga lomba jalan menggunakan bekiak. Seluruh pesertanya berasal dari kalangan guru yang mengajar di Kecamatan Kutawaluya. 

Upacara dipimpin Sekertaris Kecamatan Kutawaluya, Drs. Agus Sanusi. Disampaikan dalam pidatonya, terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas dedikasi komitmen dan ikhtiar yang telah dilakukan oleh para guru, tenaga pendidik dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Agus berharap dengan memperingati hari guru dan PGRI para guru bisa menjaga profesionalitasnya dan ini akan terasa hasilnya di masa depan nanti. "Saya selaku pemerintahan Kecamatan Kutawaluya berharap agar para guru yang berada di Kecamatan Kutawaluya memberikan ilmunya secara sungguh-sungguh dan benar kepada para siswa-siswi di sekolah. Bagaimanapun juga peran guru merupakan peran yang sangat penting bagi kelangsungan pemenerus bangsa ini ke depan," tutur Agus. 

Sementara, Ketua PGRI Kecamatan Kutawaluya, Wahidin Susanto.S.Pd., mengatakan, peringatan tersebut merupakan agenda tahunan. Kegiatan tersebut juga merupakan wadah ajang silaturahmi antar anggota PGRI di Kecamatan Kutawaluya.  (yan)

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. POTRET KARAWANG - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger