New Videos from Youtube
Tampilkan postingan dengan label pasar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pasar. Tampilkan semua postingan

TPI Minakarya Bakti Miliki Ketua Baru


Beroperasi Pasca Penyegelan 

PEDES, Spirit
Selama kurang lebih empat  bulan tidak berfungsi pasca penyegelan oleh warga, kini   Tempat Pelelangan Ikan (TPI)  Minakarya Bakti,  Desa Sungaibuntu, Kecamatan Pedes, memiliki ketua baru, yakni Tata Husen. Dia menggantikan Selamet Sonjaya yang diturunkan anggotanya karena diduga menggelapkan sejumlah dana nelayan. 
Anggota TPI Minakarya Bakti menilai, Tata Husen di yakini  bisa memimpin dan menyelesaikan seluruh permasalahan yang membelit tempat pelelangan tersebut.
Sementara itu Tata Husen,  mengatakan, dirinya menjadi Ketua TPI Minakarya Bakti  atas permintaan seluruh anggota nelayan di wilayah Sungaibuntu. “Sebelumnya mereka mengadakan musyawarah pada 1 Oktober  lalu, " tutur  Tata,  saat di temui di kediamanya Desa Sungaibuntu.
Menurut Tata, sebetulnya tidak sedikitpun terbersit menginginkan jabatan. Bagaimanapun memimpin adalah pekerjaan sulit. Akan tetapi atas dasar desakan para nelayan dirinya harus menjadi ketua TPI.  “Maka saya terima saja, toh mereka yang meminta,” paparnya.
Dia mengungkapkan, sebetulnya  yang menginginkan jabatan Ketua TPI Minakarya Bakti itu banyak. Namun entah mengapa  para nelayan lebih mempercayai dirinya. “Padahal pada waktu pemilihan tersebut saya tidak hadir. “Walau saya tidak ada,  tetap saja para nelayan memilih saya,” ujar Tata.
Menurut Tata,  setelah menjadi ketua TPI akan berusaha semaksimal mungkin  mengoperasikan TPI Minakarya Bakti agar kembali seperti semula sebelum kejadian penyegelan.   Sekuat tenaga ia akan meraih kembali para nelayan agar menjual hasil tangkapannya ke koperasi yang ada di bawah TPI, bukan menjual keluar.
“Tentunya saya juga harus meningkatkan pelayanan kepada mereka agar mereka puas dan nyaman menjadi anggota,” ujar  Tata Husen. (yan)


Penertiban Pasar Johar Ratusan Kios Dibongkar


KARAWANG, Spirit
Sebanyak 120 kios pedagang kaki lima (PKL) di sepanjang jalan Pasar Johar, terkena penertiban , Jumat (10/10) siang. Kios yang menempati jalur  hijau dan daerah resapan air tersebut, dibongkar 40 petugas Satpol PP dibantu Dalmas Polres Karawang, dan TNI.  

Pemilik kios di belakang Pasar Johar Karawang mengaku, pasrah atas penertiban yang dilakukan Satpol PP Karawang dan pihak terkait. Pasalnya, mereka dijanjikan akan dipindah untuk menempati  salah satu blok di pasar tersebut.

Sedikitnya 120  kios dirobohkan, tetapi pemiliknya  memilih berbenah barang dagangannya ketimbang digusur secara paksa.  Bahkan, beberapa pedagang membantu petugas mengemas barang-barangnya.

Meskipun pasrah, mereka mengaku belum mengetahui rencananya setelah penertiban.  “Kami belum mengetahi apa yang harus dilakukan. Akan tetapi, katanya mau dipindah ke blok atas pasar, yang belum jadi,”ungkap seorang pemilik kios, Vina.
Ia mengakui, dirinya telah membayar Rp 2 juta untuk sewa selama satu tahun.

“Kami sudah membayar kepada salah seorang penanggung jawab kios, dan baru akan habis sewa Desember  2014. Bahkan, ketika ada pemberitahuan akan ada penertiban, kami dimintai iuran untuk menyewa pengacara Rp 100.000. Yaa bagaimana lagi, kami pasrah saja,” ujarnya.

Taman kota
Sementara itu, Kepala Bidang Dalops Satpol PP Karawang, Dede Tasria mengatakan, dalam penertiban tersebut pihaknya menurunkan 40 personel dibantu pihak keamanan setempat. “Penertiban dilakukan untuk mengurangi risiko banjir. Pasalnya, kios tersebut berada di atas got,” kata Dede.

Ia mengatakan, tempat tersebut  nantinya akan dibuat  jalur hijau. “Ya sejenis taman kota. Dengan begitu kan lingkungan pasar akan menjadi lebih asri dan tidak  kumuh. Intinya demi ketertiban dan keindahan Karawang,” katanya.

Pada kesempata tersebut,  salah seorang pengelola Pasar Johar, ajat Sudrajat belum bersedia dimintai keterangan terkait penertiban tersebut.

“Nanti saja ya kalau sudah beres. Sekarang saya sedang ditugaskan untuk mengawal penertiban,” katanya. (dit)


Kadin Karawang Dorong Perda Ketenagakerjaan Asing

KARAWANG, Spirit
Menyongsong pelaksanaan ASEAN Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN atau pasar bebas ASEAN  2015, sumber daya manusia (SDM) lokal harus mempersiapkan diri untuk bersaing dengan SDM asing. Pasalnya, mayoritas perusahaan  asing, selalu menggunakan standar international pada calon tenaga kerjanya.

Untuk itu, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Karawang telah menyiapkan fasilitas pendidikan IT bersertifikat internasional. Yaitu melalui lembaga Certification and Learning Programme (CLP),” kata Ketua Kadin Karawang, H. Nizar Sungkar, SH, Kamis (9/10).

Lembaga pendidikan bersertifikat internasional yang berlokasi di Jalan Dewi Sartika 12 Karawang itu, katanya, berkonsentrasi terhadap peningkatan kemampuan dan kompetensi teknologi  informatika.

“SDM lokal kita sebetulnya secara skill, tidak kalah dengan SDM asing. Akan tetapi, secara administratif, seringkali diabaikan oleh masyarakat. Padahal, perusahaan asing, selalu mempergunakan syarat administratif tersebut sebagai acuan penerimaan calon tenaga kerja. Jadi, ini yang harus kami dorong, agar masyarakat tahu kebutuhan sertifikasi bertaraf internasional,” ungkapnya.

Abaikan administratif
Menurut dia, besarnya pencari kerja dengan usia produktif di Karawang, sebetulnya sangat berpotensi untuk diserap dalam perusahaan berinvestasi. Namun, karena masih seringnya mengabaikan syarat administratif,  membuat SDM lokal banyak yang tersisih.

Selanjutnya, pengusaha konstruksi yang menjabat kedua kali ketua Kadin Karawang ini berharap, makin tingginya tingkat kompetisi tenaga kerja, Pemkab Karawang dapat bertindak  afirmatif.  Hal tersebut dilakukan bukan untuk memproteksi potensi SDM asing. Namun, semata-mata memberi bekal SDM lokal agar berdaya saing tinggi.

“Kami berharap dilakukan penerbitan regulasi yang dapat mengakomodasi semuanya. Pada periode DPRD  lalu, kami sudah komunikasi dan akan masuk dalam prolegda. Kami harapkan, melalui anggota dewan baru  hal tersebut dapat segera diwujudkan,” katanya.

Jangan jadi penonton
Bagi Nizar, kepentingan tersebut semata-mata untuk menjadikan masyarakat merasakan dampak positif dari adanya investasi di Karawang. Jangan sampai, justru karena kelengahan bersama, menjadikan masyarakat akhirnya hanya menjadi penonton pesatnya dunia industri.
“Kami mendorong ini semua, karena tidak ingin masyarakat ibaratnya menjadi ayam mati di lumbung sendiri,” katanya.

Untuk itu, dia menyatakan, Kadin Karawang siap  bersinergi dengan pihak pemda untuk menuntaskan hal tersebut. Diharapkan, penyusunan peraturan daerah tentang ketenagakerjaan yang mengatur tenaga kerja asing dan lokal segera dibuat.

“Dinas Tenaga Kerja dan Dinas Pendidikan harus segera mengantisipasi hal tersebut, ketika regulasi disiapkan.  SDM kita sudah siap untuk bersaing,” katanya. (top)

Bajigur Makin Langka


PENJUAL salah minuman tradisional khas urang Sunda bajigur, kini makin sulit ditemui di wilayah perkotaan Kabupaten Karawang. Besar kemungkinan para penjual minuman yang berbahan baku gula aren (gula merah) dan santan itu, makin tertekan dengan maraknya minuman yang dijual dalam kemasan modern.

Suara khas penjaja bajigur yang berkeliling malam hari, sambil mendorong gerobak dagangannya, kini tak lagi terdengar. Sekali pun pada musim hujan, karena bajigur akan terasa lebih nikmat bila diminum dalam suasan dingin.

Karena itu, selain membawa penganan tradisional yang antara lain terdiri atas rebusan pisang kepok, kacang tanah, dan kukusan singkong, dalam gerobaknya juga tak pernah ketinggalan kompor. Kompor berfungsi untuk menjaga kehangat bajigur.

Menurut seorang penjual bajigur, Dani (28), berdagan minuman tardisional sekarang, terasa cukup berat. Dalam zaman yang serba instan ini, sudah tak banyak lagi masyarakat yang berminat untuk membeli bajigur.

Karena tekanan zaman inilah, lanjut Dani, kini banyak pedagang bajigur yang sudah tidak lagi berjualan minuman yang rasanay manis dan aroma khas gula ren bercampur santan ini. Mereka lebih memilih alih profesi menjadi petani, buruh pabrik atau berjualan dagangan jenis lain.

Sekarang, katanya, hanya ada beberapa orang saja yang masih menekuni profesinya, sebagai pedagang bajigur.  “Sekarang mahbanyak yang jadi petani, da ginikeadaannya juga.”

Akibat kurangnya peminat untuk membeli bajigur, ia mengaku, penghasilan sehari-harinya tidak lah besar. Namun ia enggan menyebutkan nominal pendapatan hariannnya itu.

Saat ini, menurut dia, setiap hanya beberapa orang saja yang masih membeli bajigur. Kondisi ini sangat jauh dengan beberapa tahun kebelakang, pedagang bajigur lebih banyak karena pembelinya pun masih banyak pula.

“Penghasilan, ya pas-pasan, gini lah, sudah jarang yang beli,” ujarnya.

Ia pun berharap bajigur akan kembali diminati oleh masyarakat khususnya masyarakat Sunda. Ia tak mau bajigur dilupakan begitu saja, karena bajigur merupakan minuman khas tradisi Jawa Barat.

Ma enya kudu eleh ku miniman impor. Mudah-mudahan banyak lagi yang berminat, sehingga bajigur tidak hilang di tatar Sunda,” katanya.(dra)


Dengklok Macet, Semakin Semerawut

RENGASDENGKLOK, spirit
Keberadaan jalan yang sudah macet oleh pedagang ditambah parkir kendaraan yang asal, membuat kemacetan di Pasar Rengasdengklok semakin semerawut. Saat ini, kemacetan bukan saja terjadi pagi hari, tapi setiap saat. Sayangnya, ini belum menjadi perhatian serius instansi terkait.

Seperti diungkapkan Aripin (32) yang sehari-harinya melewati jalan di depan Pasar Rengasdengklok. Menurut dia, kondisi kemacetan jalan raya Rengasdengklok semakin hari terlihat semakin parah.

Kata dia, pada situasi saat ini seharusnya Polsek Rengasdengklok bisa meminimalisir kemacetan dengan menerjunkan petugasnya mengatur lalu lintas. Jangan sampai ada asumsi masyarakat, polisi hanya diam tidak melakukan pembenahan melihat kemacetan di jalan ini.


“Coba dong, turunkan petugas untuk mengatur lalu lintas agar kemacetan di jalan ini bisa teruraikan," ungkap warga Kecamatan Jayakerta ini, kepada Spirit Karawang, Jumat (26/9).

Kata dia, titik kemacetan terparah terjadi di depan Pasar Rengasdengklok tepatnya di depan kantor kecamatan lama. Hingga kini, jalan itu masih menjadi satu-satunya jalur perlintasan bagi pengguna jalan yang menuju arah Karawang kota. Selain mobil angkutan umum, motor, becak juga truk.


"Kalau pagi hari, jika kita lewati jalur ini dipastikan akan terjebak kemacetan fatal, karena jalan ini satu-satunya jalur perlintasan yang mudah diakses. Meski ada jalur lain, namun kita harus berputar-putar dan akan memakan waktu lebih lama lagi. Apalagi sekarang ditambah pembangunan jalan yang belum selesai, kemacetan di sini semakin kusut dan tidak ada solusi," katanya.

Ditempat erbeda, Deden Yuda (45) warga Kutawaluya mengaku, kalau sebenarnya kemacetan ini akibat Polsek Rengasdengklok tidak mengatur arus lalu lintas yang keluar-masuk Pasar Rengasdengklok. Hal ini yang membuat Rengasdengklok semakin macet.



”Macet yang ada di Rengasdengklok waja, karna lihat saja, dengan bebasnya jalan terganggu dan  tidak ada pengatur lalu lintas,” jelasnya.


Beberapa waktu lalu, Kapolsek Rengasdengklok, Kompol Akhmad Sayuti pernah menyatakan kepada wartawan, akan mengurai kemacetan di Pasar Rengasdengklok, tetapi hingga saat ini, pernyataan Kapolsek itu belum terbukti. (yan)

PKL di Jalan Pasar Cikampek Ditertibkan

CIKAMPEK, Spirit
Pedagang Kaki Lima (PKL) yang menutupi akses jalan masuk ke Pasar Pemda Cikampek dan ke Terminal Cikampek, ditertibkan petugas gabungan pelaksanaan penataan PKL yang terdiri dari Trantib, Kepolisian, TNI dan Koramil di wilayah Kecamatan Cikampek, Kamis (25/9) pukul 08.30 WIB. 

Penataan PKL yang dilakukan petugas gabungan itu berjalan sesuai dengan rencana,  tanpa ada protes apapun dari PKL terhadap para petugas gabungan yang melaksanakan kegiatan itu.

Hal ini tentunya akibat tindakan petugas yang lebih persuasif terhadap para PKL dan pemberitahuan terlebih dahulu sebelumnya kepada PKL bahwa pada tanggal yang telah ditentukan sebelumnya, akan dilakukan penataan PKL oleh pihak Trantib dan petugas gabungan lainnya di Kecamatan Cikampek.

Tim mulai bergerak pada pukul 8.30 WIB, setelah sebelumnya diadakan breefing dengan para petugas gabungan yang dipimpin langsung oleh Kasie Trantib Kecamatan Cikampek, Asep Amrulloh.

“Ya, saya bersama para petugas lainnya, hari ini (kemarin,red) lakukan penataan terhadap para PKL yang berjualan di badan jalan dan dianggap mengganggu lalulintas kendaraan yang hendak hilir mudik ke Pasar dan ke Terminal Cikampek, karena selama ini saya melihat kondisi jalan ini semrawut, dan membuat tidak nyaman bagi para pengguna kendaraan baik roda dua, becak terlebih roda empat,” ucap Asep kepada Spirit Karawang, Kamis (25/9).

Dirinya juga mengatakan, kegiatan tersebut tidak mengalami kendala apapun, bahkan mereka sebagian sudah membongkar lapak dagangannya sebelum para petugas gabungan itu tiba di lokasi. Namun, tak sedikit PKL yang meminta waktu untuk pembongkarannya dalam waktu satu hingga dua hari kedepan.

Hal itu dimaklumi petugas karena melihat kondisinya, dipastikan Asep, PKL yang meminta waktu itu akan menepati janjinya. Dia juga menambahkan, penataan tersebut akan terus dilakukan secara rutin dalam setiap bulannya.

“Allhamdulillah dalam pelaksanaan penataan ini kami bersama tim lainnya tidak mengalami hambatan, bahkan mereka (PKL,red) diantaranya ada yang sudah membongkar lapaknya sendiri sebelum pelaksanaan penataan ini berlangsung. Saya tidak melarang untuk berjualan, namun ya sebaiknya mengetahui aturan yang ada dan mengambil tempat yang tidak mengganggu arus lalulintas di sini,” tegas Kasie Trantib.

Aprizal (32), salah seorang pedagang PKL yang berjualan di atas bahu jalan yang biasa digunakan para pejalan kaki mengatakan, dirinya mendukung penataan tersebut untuk dilakukan secara rutin dalam setiap bulannya, karena banyak para PKL yang tak peduli pada pengguna jalan, hingga membuka lapaknya dibadan jalan hingga menggangu pengguna jalan ini.

“Saya sangat mendukung atas pelaksanaan penataan para PKL ini seperti kita lihat sendiri kondisi disini seperti apa. Tuh lihat, mereka berjualan menghabiskan badan jalan, padahalkan sudah ada batas untuk berjualan, tapi ya itulah mereka kurang peduli kepada kenyamanan pengguna jalan akses masuk ini. Nah, jika jalan selalu macet lalu siapa yang mau berbelanja ke pasar yang di sana itu,” tandasnya. (gus)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. POTRET KARAWANG - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger