New Videos from Youtube
Tampilkan postingan dengan label keagamaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keagamaan. Tampilkan semua postingan

MUI Terus Soroti Perbuatan Asusila di Karawang

Perselingkuhan Terjadi Akibat Hedonisme 


KARAWANG, Spirit
Praktek perselingkluhan merupakan dampak dari budaya hedonisme yang telah menjamur di tengah masyarakat. Hingga kini Majlis Ulama Indonesia(MUI) Kabupaten Karawang terus menyoroti kasus perselingkuhan dan berbagai bentuk perbuatan asusila lainnya yang akhir-akir ini marak terjadi di daerah ini. 

Selain masalah tersebut merupakan dosa, menurut Ketua Majlis Ulama Indonesia(MUI) Kabupaten Karawang, KH Tajuddin Nur,  juga merupakan penyimpangan norma-norma agama. Perbuatan tersebut, lanjutnya, jelas merupakan perbuatan yang dilarang keras oleh agama.

 "Bahkan semua agama yang ada di dunia ini, melarang keras tindakan perzinaan dan perselingkuhan, sehingga semua pemuka agama seyogyanya harus dapat mengendalikan dan menghindarkan umatnya dari tindakan-tindakan perzinaan dan perselingkuhan itu,” katanya kepada Spirit Karawang, Selasa (25/11/2014).

Budaya hedonism, menurut dia, merupakan perbuatan negatif yang dapat menghancurkan struktur kehidupan sosial masyarakat. Budaya hedonisme, katanya pula, adalah budaya yang muncul akibat manusia terus menuruti sifat pelit (kikir, Red.) dan nafsu birahi dalam dirinya.

“Budaya tersebut juga merupakan akibat dari keangkuhan dan kebanggaan seeorang secara berlebihan terhadap hasil karyanya sendiri, sehingga melahirkan sikap dan perbuatan semaunya sendiri tanpa memperdulikan orang lain,” ujarnya.

Mengingat negara Indonesia, bukan negara agama, yang mendasarkan segala praktek kehidupan sepenuhnya kepada syari’at Islam, maka menurut Tajuddin, untuk memberikan efek jera dan meminimalisir mewabahnya praktek-praktek perselingkuhan, pelakunya harus diberikan sanksi sesuai hukum positif yang berlaku di negeri ini. Sementara untuk menangkal diri dari penetrasi budaya hedonisme, pihaknya mengimbau masyarakat, khususnya umat Islam, terus melakukan penguatan pengamalan ibadah baik ibadah mahdhoh(hambulminallah) maupun ibadah ghairumahdhah (kebaikan sosial), serta menghindarkan diri dari mencari rezeki yang tidak halal.

“Kuatkan pengalaman ibadah, baik mahdhah maupun ghairumahdhah, perbanyak dzikir serta makan makanan yang halal dan baik, agar seseorang dapat melindungi diri dari pengaruh budaya hedonisme,” katanya.(zen)






NU Tolak Islam Radikal

PCNU Karawang Adakan Rapat Kerja I

KARAWANG, Spirit
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Karawang menegaskan akan melakukan upaya membentengi umat dari gempuran gerakan perkembangan ideologi Islam radikal. Islam yang menekankan aksi kekerasan, bagi NU tidak mencerminkan citra Islam sebagai rahmatan lil’alamin. Hal tersebut terungkap dalam acara Rapat Kerja I PCNU Karawang, Rabu (5/11) di Pondok Pesantren Ash Shiddiqiyah 3 Cilamaya Wetan Karawang. 

“Di Karawang, terutama di basis perkotaan, perbedaan ideologi tersebut telah kentara. Sehingga, perlu dilakukan upaya untuk membentengi  ideologi ahlus sunnah wal jamaah yang moderat dan inklusif yang berwawasan kebangsaan dan keindonesiaan,” ujar Wakil Sekretaris PCNU Karawang, Emay Ahmad Maehi.

Ditambahkan dia, prioritas yang perlu dilakukan adalah melakukan penguatan pada basis jamiyah NU di perdesaan. Mengingat di wilayah perdesaan kekuatan kultur jamiyah Nahdlatul Ulama masih kental dan wajib untuk dipertahankan.

Hal senada ditekankan pula oleh Rois Syuriah PCNU Karawang, KH Hasan Nuri Hidayatullah. Pihaknya mengharap, agar pengurus NU Karawang dalam mengakselerasi program dan kegiatannya bisa lebih memfokuskan pada basis desa dan kecamatan.

“Kita harus lebih mengonsentrasikan kegiatan program NU di basis ranting dan MWC (kepengurusan kecamatan). Bahtsul Masail, Lailatul Ijtima’ perlu lebih ditingkatkan lagi di wilayah itu. Karena, wilayah itu merupakan benteng terakhir khasanah ideologi umat Nahdliyin yang masih terjaga,” tutur Gus Hasan, sapaan KH Hasan Nuri Hidayatullah.

Ditambahkan Gus Hasan, prioritas dan fokus kegiatan di perdesaan lebih disebabkan bebrapa factor. Salah satunya, lanjutnya, antara lain di wilayah perkotaan pertarungan wacana dan ideologi tersebut sudah sangat jelas. Sehingga, efektivitas kegiatannya perlu digeser di basis nahdliyin perdesaan yang secara kualitatif dan kuantitatif lebih dominan.

“Apalagi, selama ini pelaksanaan kegiatan yang dilakukan di ranting dan MWC lebih beranimo tinggi, dibanding dengan di tingkat perkotaan. Sehingga sudah sepatutnya PCNU harus lebih intensif melakukan penataan, penguatan, dan mengonsolidasikan  basis jamaah secara riil, termasuk jajaran badan otonomnya,” ujar Pengasuh Ponpes Ash Shiddiyah 3 tersebut.

Sementara itu, dalam rapat kerja I PCNU  Karawang, Ketua Tanfidziyah H Ahmad Marjuki menegaskan perlunya penataan organisasi baik dari segi adminsitratif, manajerial,  dan tugas pokok fungsi jajaran kepengurusan. Baginya, NU sebagai organisasi sosial kemasyarakatan, kehadirannya harus benar-benar dirasakan bermanfaat bagi jamaah Nahdliyin khususnya dan masyarakat pada umumnya.

“Dalam tertib administrasi, kita harus segera menyelesaikan penerbitan surat keputusan kepengurusan sampai di tingkat ranting. Targetkan selesai ditahun ini (2014-red). Termasuk juga, dalam hal papanisasi kepengurusan, penerbitan Kartanu melalui kerja sama dengan BMT dan intensifikasi kantor atau Sekretariat NU,” ujar Marjuki didampingi Sekretaris PCNU, Ir. Karyan. (top)


Kenapa Malas Beribadah?

DALAM Alquran manusia memiliki beberapa sebutan: al-abid, an-nas, al-insan, al-basyar. Al-abid.  Artinya, hamba yang melakukan ibadah, mengabdi kepada Allah. 

Manusia disebut al-abid manakala berkumpul di dalamnya ruhani dan jasmani. Ketika ruhani dan jasmaninya berpisah, manusia disebut mayit dan gugurlah perintah ibadah kepadanya. Dengan kata lain, karena perintah ibadah itu jatuh pada saat berkumpul ruhani dan jasmani, berarti ibadah tersebut seharusnya dilakukan oleh ruhani dan jasmani secara bersamaan.

Ruhani memiliki sifat tidak mengenal lelah, sementara jasmani suka lelah jika melakukan sesuatu. Itulah sebabnya mengapa kita merasa lelah ketika salat tarawih sebanyak 20 rakaat, misalnya. Sementara banyak ulama yang mampu mengerjakan salat sunah dengan rakaat jauh lebih banyak tanpa merasa lelah bahkan menikmatinya? Jawabannya, karena mereka melalukannya dengan dominasi amal ruhani, sedangkan salat kita baru sebatas amal jasmani.

Kesimpulannya, jika ingin istiqamah dalam beribadah maka lakukan amal kita dengan dominasi ruhani di dalamnya. Caranya, perkuat ruhani kita agar dapat mengalahkan jasmani dengan cara memenuhi kebutuhan konsumsi ruhani secukupnya sebagaimana kita selalu berusaha memenuhi kebutuhan jasmani kita.

Tengoklah, apa yang telah kita lakukan bagi ruhani dan jasmani kita?  Selama ini kita selalu berusaha keras memenuhi kebutuhan jasmani agar sehat dan kuat. 

Dari sisi kuantitas, frekuensi makan untuk memenuhi konsumsi jasmani telah mampu dilakukan secara rutin dan istiqomah sebanyak 3 kali dalam sehari-semalam plus cemilan pula. 

Dari sisi kualitas, kita pun selalu berusaha mengonsumsi makanan dengan gizi yang berimbang, empat sehat lima sempurna, bahkan tidak cukup, harus ditambah lagi rasa yang lezat dan nikmat walaupun harus membayar dengan harga sangat mahal.

Akan tetapi,  pernahkah kita berusaha memenuhi kebutuhan ruhani dengan cara yang sama, gizi seimbang dan rasa nikmat ? Padahal, konsumsi ruhani itu hanya dua macam, yaitu ilmu dan zikir. Jumlah yang sangat sedikit bila dibandingkan dengan komsumsi jasmani yang sangat banyak dan beragam jenisnya. Jumlah yang sangat sedikit ini diperparah lagi dengan cara mengonsumsinya yang sangat sedikit pula baik dari sisi kuantitas apalagi kualitas.

Dari jenis konsumsi ruhani dalam bentuk ilmu, frekuensi menuntut ilmu baru mampu memenuhinya hanya satu kali dalam seminggu –dalam bentuk hadir di majlis taklim mingguan- itu pun masih dikurangi dengan lebih sering absen daripada hadirnya.

Dari konsumsi ruhani dalam bentuk zikir, melihat fasilitasnya bisa lebih tinggi frekuensinya yakni lima kali dalam sehari semalam dalam bentuk zikir ba’da salat lima waktu. Akan tetapi, kenyataannya, umumnya baru dua waktu yang agak rutin dilakukan, ba’da magrib dan subuh, itu pun masih terkurangi karena alasan sibuk atau ngantuk. 

Penulis Ir. Karyan Gunawan (Sekretaris PCNU Karawang)

Hidupkan Kembali Sejarah Perjuangan Ulama


KARAWANG, Spirit
Buku sejarah tidak pernah menerangkan sejarah perjuangan kaum santri. Melalui refleksi resolusi jihad, sudah seharusnya menghidupkan kembali sejarah perjuangan ulama dan kaum santri bagi kemerdekaan Indonesia.

Hal tersebut dikatakan Zainul Milal Bizawie dalam Seminar Implementasi Semangat Resolusi Jihad NU yang diselenggarakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Karawang di Lebak Sari Indah Interchange Karawang, Minggu (19/10).

Resolusi jihad, menurut Zainul, merupakan garda depan perjuangan dalam kemerdekaan Indonesia. Ulama menjadikan pesantren sebagai basis perjuangan  merupakan faktor strategis karena kultur dan tradisi takdlim, tawadlu yang sangat kental.

Kuatnya tradisi tersebut, katanya, membuat fatwa Resolusi Jihad Hadrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari Ada  pada 22 Oktober 1945 berperan besar sebagai spirit pertempuran 10 November di Surabaya.

Namun, saat ini dengan makin lemahnya nilai-nilai tradisi yang ada di pesantren, bagi Zainul, resolusi jihad dapat menjadi inspirasi untuk kembali menghidupkan  sejarah perjuangan ulama. Sudah menjadi keharusan, katanya,  masyarakat  membentengi serangan nilai-nilai yang melemahkan kekuatan sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

”Kita harus menanamkan militansi agar generasi kita terhindar dari pengaruh nilai-nilai yang merongrong kekuatan NKRI. Kita harus mampu merawat tradisi, yang selama ini menjadi perekat dan kohesivitas sosial kita,” ujar lelaki yang pernah mengenyam Pesantren Matholiul Falah Pati ini.

Ia mengharapkan, implementasi resolusi jihad dapat dijalankan melalui aspek pendidikan. Sistem pendidikan yang saat ini diterapkan dengan model klasikal dan pembuktian sertifikat atau ijazah, merupakan hasil adopsi yang dijalankan Belanda melalui politik etis.

Sama dengan TNI
Sementara itu, Kapten Sudiyono dari Kodim 0604 Karawang, menyatakan hal yang tak jauh beda. Ideologi kebangsaan NU yang menjadikan NKRI sebagai harga mati, sama dengan jiwa yang ada dalam kesatuan TNI.

Pada prinsipnya, menurut dia, tentara tidak pernah mengambil jarak dengan ulama dan pesantren. Hal ini mengingat keberadaan ulama dan pesantren dalam perjuangan kemerdekaan telah bersinergi melakukan gerakan perlawanan terhadap kolonialisme.

”Tentara dan ulama maupun santri dari dulu tidak ada bedanya. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Kebersamaan  dan ikatan sosialnya pun sama, karena memang dididik dengan penuh kekompakan,” ungkapnya.

Seminra dihadiri ratusan peserta berasal dari pengurus PCNU, badan otonom di lingkungan NU Karawang, tokoh masyarakat dan pesantren.  Selain itu, tampak pula  tamu undangan termasuk anggota DPRD Jawa Barat, Gina Fadila Swara dan tokoh perempuan Karwang, Yeni Marlina. (top)

Antisipasi Gerakan ISIS


MUI  dan PCNU Kunjungi DKM Kawasan Industri

KARAWANG, Spirit
Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Karawang mengadakan kunjungan terhadap Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) An Nur PT Yamaha Motor Manufacturing West Java, Jumat (10/10).  Maksud kunjungan tersebut adalah untuk menjalin tali silaturrahmi dan memperkuat ukhuwah islamiyah. Hal tersebut disampaikan oleh Syuriah PCNU Karawang, KH Zaenal Abidin.

Di samping itu, Zaenal mengatakan kunjungannya juga dimaksudkan untuk melakukan koordinasi untuk membentengi umat Islam agar tidak terjerumus dengan aliran Islam radikal. Nilai-nilai ajaran Islam adalah penuh kasih sayang dan kemanusiaan.

“Kita butuh penyampaian dan penguatan ideologi ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Islam yang tidak harus ditegakkan dengan kekerasan,” tuturnya kepada Spirit Karawang.

Dia menambahkan, dengan merebaknya ajaran ISIS (Islamic State of Iraq and Syam) yang berkembang begitu pesat, menjadi fokus kegiatan PCNU Karawang untuk ikut melakukan antisipasi. Pasalnya, ajaran dan ideologi ISIS bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Ahlussunah Wal Jama'ah.

“Kita harus kedepankan Islam kita dengan sikap tasamuh, tawazun, tawasuth dan i’tidal (toleran, seimbang, berdiri di tengah, dan tegak)  dalam kehidupan kebergamaan di bumi Indonesia,” katanya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Pengurus MUI Karawang, Emay Ahmad Maehi, bahwa keberadaan sumber-sumber penguasaan ekonomi menjadi sasaran bagi kelompok jaringan Islam radikal, salah satunya ISIS. Sehingga dirinya memandang, diperlukan perhatian khusus untuk membentengi dan mengantisipasi berkembang biaknya ajaran tersebut.

“Melalui kacamata NU dan MUI, keberadaan ISIS tidak bisa dilepaskan dari kemampuan mereka melalui gerakan penguasaan sumber-sumber ekonomi vital. Tentunya untuk membiayai roda organisasi dalam melakukan gerakan. Ini yang menjadi fokus warning kita kepada DKM an Nur,” katanya.

Keberadaan DKM An Nur yang berada dalam lingkungan Karawang International Industries City (KIIC),  membuat ruang interaksi aktivitasnya sulit dijangkau oleh masyarakat umum. Sehingga Emay mengkhawatirkan apabila sudah ada kader yang masuk jaringan ISIS, tentu akan leluasa untuk melakukan penggalangan kekuatan.

“Kami himbau, agar pihak manajemen KIIC maupun kawasan Industri lain untuk lebih koordinatif dengan MUI maupun PCNU, agar hal-hal yang dikhawatirkan dapat diantisipasi sedini mungkin,” ujar Emay.

Dia mengungkapkan,  setelah melakukan kunjungan dan pembinaaan DKM An Nur, direncanakan dalam waktu dekat juga dilakukan hal yang sama terhadap DKM-DKM lain yang berada di daerah industri.

“Yang sudah kita agendakan bersama, dalam waktu dekat nanti kita lanjutkan kunjungan ke DKM PT AHM (Astra Honda Motor). Komunikasi dengan pihak manajemen AHM sudah kita lakukan, namun karena ketua DKM-nya sedang beribadah haji, maka kita agendakan setelah kepulangan ketua DKM dari tanah suci,” ujar alumnus Sastra Arab IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. (top)

Ormas Islam Harus Mampu Atasai Problem Umat

KARAWANG, Spirit
Pemerintah daerah (Pemda) Karawang melalui bagian kesejahteraan rakyat sekretariat daerah (Kesra Setda) Kabupaten Karawang menggelar pembinaan dan sosialisasi organisasi masyarakat (Ormas) Islam di Rumah Makan Indo Alam Sari, Kecamatan Telukjambe Barat, selama dua hari 29-30 September 2014. Kegiatan tersebut dihadiri ratusan aktivis dari berbagai Ormas Islam, seperti dari Muhammadiyah, Nahdhatul Ulam, Persatuan Islam, Pembina Iman Tauhid Islam dan Mathlaul Anwar.

Menurut Kepala bagian Kesra Setda Kabupaten Karawang, H. Ade Mahmud, maksud dan tujuan dilaksanakannya kegiatan tersebut diantaranya untuk meningkatkan silaturahmi dan persamaan persepsi diantara Ormas Islam yang berada di Kabupaten Karawang berdasarkan kesamaan pandang dalam gerakan “Ahlussunnah wal jama’ah”, memajukan kehidupan masyarakat yang Islami, memperbaiki kembali sendi-sendi kehidupan berdasarkan ajaran al-Quran dan As-Sunnah.

“Selain itu, lanjutnya, kegiatan tersebut bertujuan untuk memecahkan kendala atau masalah yang ada di Ormas Islam,” ucap Ade.

Ditambahkan Ade, dalam kegiatan tersebut, para peserta akan diberi beberapa materi penting dari beberapa tokoh agama dan tokoh akademisi, seperti KH. Hasan Nuri Hidayatullah sebagai Ketua Rois Syuriah PCNU Kabupaten Karawang yang akan memberikan meteri tentang Islam antara tegas dalam prinsip dan luwes dalam sikap dan Dr. Sunandar Ibnu Nur, MA. yang merupakan Wakil Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta akan menyampaikan materi tentang akar-akar gerakan Islam radikal dalam sejarah Indonesia.

“Metode dalam kegiatan itu nantiny ada ceramah atau paparan dan tanya jawab peserta kepada narasumber,” ungkap Ade.

Dikatakan Ade, sejak dibentuknya forum Ormas Islam pada 20 November 2011, forum tersebut banyak melakukan kegiatan untuk memajukan kehidupan masyarakat yang sejahtera material dan spiritual melalui gerakan dakwah Islamiyahnya. Forum tersebut juga dinilai Ade selalu konsekuen membahas dan turut serta mengatasi berbagai problema umat dewasa ini, seperti masalah kekufuran, kebodohan dan kemisikinan.


“Dengan adanya kegiatan ini, semoga semakin mengeratkan kerja sama antara Ormas Islam dan pemda Karawang dalam membina umat Islam ke arah yang lebih baik,” tutup Ade. (tif)

MTs Al-I’anah Latih Siswa Manasik Haji

KARAWANG, Spirit
Tidak kurang dari 900 siswa kelas VII, VIII dan kelas IX di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-I’anah, Kecamatan Klari, mengikuti prosesi manasik haji atau peragaan pelaksanaan ibadah haji sesuai dengan rukun-rukunnya. Mereka mengenakan pakaian ihram berwarna putih menyerukan bacaan talbiyah yang diserukan oleh para siswa dari  lapangan olahraga MTS Al-I’anah menuju lapangan persawahan Desa Duren, Kecamatan Klari.

Para siswa perempuan berjalan di depan kelompok siswa laki-laki menuju Ka’bah tiruan di tengah lapangan basket yang disimulasikan sebagai Ka’bah asli. Para siswa pun melakukan thawaf atau mengelilingi Ka'bah tujuh putaran.

Selanjutnya, para siswa pun melakukan peragaan sholat dua raka'at di belakang maqom Ibrahim yang dilanjutkan tahapan menuju bukit Shofa untuk melakukan berlari-lari kecil antara bukit Shofa dan Marwah. Bahkan, juga dilakukan prosesi tahalul atau menggunting rambut sedikit seolah selesai Sa'i di bukit Marwah. Setelah menyelesaikan tahapan umroh, para siswa pun beristirahat dan kemudian melakukan peragaan haji dengan berjalan kaki mengelilingi area jalan raya Kosambi seolah menuju Mina.

Menurut Kepala MTs Al-I’anah, H. Ahmad Jamaludin, M.Pd.I., kegiatan pelatihan bimbingan manasik haji kepada siswanya bertujuan untuk melatih ibadah haji sejak usia sekolah dengan cara memberikan pengalaman dengan praktek secara langsung kepada siswa. Selain itu juga untuk melatih kesabaran di kalangan anak-anak karena mereka harus melaksanakan ibadah haji secara urut dan sistematis.

“Di samping itu juga, kegiatan tersebut sebagai syiar keagamaan Islam dan syiar kegiatan madrasah, sehingga pada akhirnya masyarakat bisa mengetahui dan mengenal lebih dekat MTs Al-I’anah,” ucap Ahmad.

Dikatakan Ahmad, dalam kegiatan manasik haji ada tiga mata pelajaran yang disinergiskan, yakni mata pelajaran Fikih, sejarah kebudayaan Islam (SKI) dan Akidah. Dari segi mata pelajaran Fikih, siswa diajarkan tata cara bagaimana melaksanakan ibadah haji dengan baik sesuai dengan rukun dan syaratnya. Sedangkan dari segi mata pelajaran SKI, siswa akan dikenalkan tempat-tempat bersejarah yang dijadikan tempat ritual ibadah haji, seperti Ka’bah, bukit Shofa dan Marwah dan padang Arafah. Kemudian dari segi mata pelajaran Akidah, siswa akan diajarkan untuk meyakini bahwa ibadah haji merupakan bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah swt.

Masih dikatakan Ahmad, kegiatan proses belajar mengajar tidak hanya dilakukan oleh guru di dalam kelas, tapi bisa juga dilaksanakan di luar kelas, seperti pelaksanaan pelatihan manasik haji. Bahkan, dia berencana pelaksanaan manasik haji yang diselenggarakan di madrasahnya akan dijadikan program unggulan yang akan diadakan tiga tahun sekali yang dilaksanakan secara serentak tiga kelas untuk meningkatkan mutu pembelajaran.

“Sebelumnya kegiatan serupa pernah dilaksanakan tujuh tahun yang lalu, tapi ke depan kami akan mengagendakan kegiatan tersebut tiga tahun sekali,” imbuhnya.

Masih menurut Ahmad, kegiatan pelatihan manasik haji lebih banyak dilakukan oleh anak sekolah tingkat TK atau RA, tapi untuk level MTs dan MA masih sangat jarang dilaksanakan. Oleh sebab itu, dia berharap dengan diadakannya pelatihan manasik haji oleh madrasahnya bisa memacu madrasah-madrasah lain untuk melakukan hal serupa demi syiarnya ajaran Islam dan menanamkan pemahaman ajaran Islam secara langsung dikalangan pelajar. Di samping itu, diadakannya pelatihan manasik haji ternyata direspon sangat positif oleh para wali murid yang turut menyaksikannya. Mereka merasa bangga dan senang anaknya mengikuti pelatihan manasik haji.

“Dengan adanya kegiatan tersebut, mudah-mudahan bisa mendorong wali murid yang mampu untuk segera menunaikan ibadah haji ke tanah suci,” tutup Ahmad. (tif)


Puluhan Ulama NU Hadiri Bahtsul Masail

KARAWANG, Spirit
Puluhan ulama yang terdiri dari pimpinan Pengurung Cabang Nahdhatul Ulama (PCNU) Kabupaten Karawang dan pimpinan Majlis Wakil Cabang (MWC) NU se-Kabupaten Karawang hadiri kegiatan bulanan, yakni Bahtsul Masail yang diselenggarakan di Masjid An-Nur jalan Alternatif Kampung Babakan Toge, Kelurahan Tanjung Mekar, Kecamatan Karawang Barat, Sabtu (27/9).

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Rois Syuriah PCNU Kabupaten Karawang, KH. Hasan Nuri Hidayatullah, dan Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Karawang, H. Akhmad Marjuki. Sempat hadir pula dalam kegiatan tersebut artis remaja bintang sinetron Aliando Syarif.

Dalam sambutannya, Ketua PCNU Kabupaten Karawang mengatakan, berharap kegiatan bahtsul masail yang merupakan kegiatan unggulan yang diadakan PCNU Kabupaten Karawang tiap satu bulan ini mendapat ridho dari Allah swt dan mengucapkan terima kasih kepada keluarga H. Tafsir, yang tak lain merupakan kakek dari Aliando Syarif dan pendiri Masjid An-Nur, yang telah membai’at Masjid An-Nur untuk kegiatan NU dan berfaham Ahlussunnah wal jamaah.

“Marilah kita doakan agar keluarga H. Tafsir diberi kesehatan dan rezeki yang luas dari Allah swt,” ucap H. Akhmad Marjuki yang juga CEO Kemuning TV dan koran Spirit Karawang.

Masih dikatakan H. Akhmad Marjuki, meski dia memiliki kesibukan di tempat lain, tapi kesibukan itu dia tinggalkan karena menilai tema bahtsul masail saat itu sangat menarik, yakni tentang infotainmet dan gosip, sehingga jika dia tidak mengikuti kegiatan tersebut, dikhawatirkan Kemuning TV yang dikelolanya dikategorikan sebagai gosip dan finah.

“Oleh sebab itu, meski saya sibuk, saya sempatkan hadir agar memahami tema tersebut dalam bahtsul masail,” ujarnya.

Selain itu, dia juga mengajak kepada segenap pengurus organisai NU mulai dari tingkat PCNU hingga pengurus ranting NU agar mensukseskan program Kartanu, yakni kartu tanda anggota NU. Menurut Marjuki, Kartanu itu penting untuk mengukur sejauh mana organisasi NU itu hidup dan berjalan, karena keberadaan database anggota melalui Kartanu sangat diperlukan juga untuk mengetahui potensi anggotanya, apakah memiliki potensi di sektor budaya atau di ekonomi.

“Saya juga memprogramkan Kartanu akan diundi, jika pengurus yang dapat akan diumrohkan dan jika yang dapat pelajar akan diberi bea siswa,” janjinya.

Di tempat yang sama, Ketua Rois Syuriah PCNU Kabupaten Karawang, KH. Hasan Nuri Hidayatullah mengatakan, kegiatan bahtsul masail merupakan kegiatan semacam pengkajian terhadap tema tertentu yang memiliki manfaat untuk masyarakat. PCNU Kabupaten Karawang memiliki berbagai kegiatan, yakni kegiatan bahtsul masail yang diadakan tiap bulan sekali, kegiatan lalilatul ijtima’ yang diadakan tiga bulan sekali, kegiatan up-grading untuk pengurus kabupaten sampai pengurus ranting yang diadakan tiap bulan sekali dan kegiatan pengajian kitab Al-hikam tiap Kamis di kantor PCNU Kabupaten Karawang.

“Itu merupakan kegiatan rutin yang diadakan organisasi NU, yang isinya kyai ya kegiatannya ngaji terus,” ujar Kyai muda yang akrab disebut Gus Hasan.

Kegiatan bahtsul masail, menurut Gus Hasan, memiliki manfaat untuk menghindari perbedaan pendapat dikalangan ulama untuk disampaikan kepada masyarakat, sehingga masyarakat tidak dibingungkan saat meminta jawaban terkait permasalahan yang sedang terjadi kepada para ulama NU.

Dalam kegiatan tersebut, Gus Hasan berpesan mengajak kepada masyarakat terutama kepada para ulama agar menggiatkan pengajian-pengajian, karena menurutnya banyaknya persoalan perselisihan yang menjangkit di tengah-tengah masyarakat akibat penyakit bodoh yang merajalela sehingga hal-hal yang tidak jelas diyakini masyarakat.

“Sehingga saya mengajak kepada masyarakat agar menggiatkan mengaji,” pesan Gus Hasan.

Sesaat sebelum kegiatan bahtsul masail dimulai, Bintang Sinetron artis remaja, Aliando Syarif, menyempatkan diri hadir di tengah-tengah para ulama dan masyarakat. Aliando Syarif turut menyaksikan saat Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Karawang, H. Akhmad Marjuki, memberikan souvenir berupa bingkai pengurus struktur organiasasi NU kepada Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) An-Nur.

Dalam kesempatan itu, Aliando sempat minta didoakan oleh Gus Hasan dan kepada masyarakat umumnya yang hadir agar dia selalu diberikan kesehatan dan diberikan rezeki yang luas oleh Allah swt supaya dia bisa terus berbagi kepada masyarakat. (tif).


 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. POTRET KARAWANG - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger