RAWAMERTA, Spirit
Akibat seringnya gagal panen, para petani di Dusun Garunggung, Desa Panyingkiran, Kecamatan Rawamerta, kini mulai beralih dari menanam padi ke berkebun terong. Saat panen kemarin, para petani merugi akibat padinya terserang hama, sehingga untuk menutup kerugian mereka mencari upaya.
Petani pemilik sawah yang kini beralih menanam terong adalah Ruminta (52). Ia mengatakan, kini beralih ke palawija karena sawahnya sering gagal panen. Tanaman terong dipilihnya karena tahan di musim kerng seperti sekarang dan pasarnya tetap ada.
“Kalau menanam terong bisa dipetik dua hari sekali. Hasilnya lumayan daripada menanam padi hasilnya tetap jelek terus," tutur Ruminta, saat di temui di areal perkebunan terongnya, Rabu (22/10).
Ruminta juga menjelaskan, menanam terong biayanya terbilang kecil dibanding dengan menanam padi. Hasilnya juga cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari. “Kami menanam terong bukan berarti akan selamanya. Kami lakukan untuk sementara saja. Kalau tanah ini sudah memungkinkan untuk ditanam padi lagi, kami juga akan kembali menanamnya,” ujar Ruminta.
Masih kata Ruminta, dengan menanam terong juga bisa memberikan pekerjaan, kepada para buruh musiman, yang merupakan tetangganya. Kalau biasanya mereka hanya menjadi buruh pada musim panen, kini mereka bisa bekerja tiap hari di kebun terong walaupun hanya mendapat upah sebesar Rp 35.000 rupiah per hari.
“Tapi itu bermanfaat bagi mereka,” ujarnya.
Ditanya masalah penjualan, menurut Ruminta, justru lebih mudah menjual terong di bandingkan padi. Bandar terong yang datang sendiri dari beberapa pasar, yang berada di wilayah Karawang. Mereka selalu membayar dengan kontan walaupun harganya hanya Rp 2.500 per kilogram.
“Ini berbeda dengan menjual padi, banyak tengkulak yang ngutang. Kadang di bayarnya juga dua bulan setelah padi di tarik oleh mereka,” paparnya.
Warnasim (53), buruh di kebun terong mengatakan,"Saya juga sangat bersyukur, adanya kebun terong ini karena ada penghasilan setiap harinya,” katanya.(yan)







Posting Komentar