
KARAWANG, Spirit
Buku sejarah tidak pernah menerangkan sejarah perjuangan kaum santri. Melalui refleksi resolusi jihad, sudah seharusnya menghidupkan kembali sejarah perjuangan ulama dan kaum santri bagi kemerdekaan Indonesia.
Hal tersebut dikatakan Zainul Milal Bizawie dalam Seminar Implementasi Semangat Resolusi Jihad NU yang diselenggarakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Karawang di Lebak Sari Indah Interchange Karawang, Minggu (19/10).
Resolusi jihad, menurut Zainul, merupakan garda depan perjuangan dalam kemerdekaan Indonesia. Ulama menjadikan pesantren sebagai basis perjuangan merupakan faktor strategis karena kultur dan tradisi takdlim, tawadlu yang sangat kental.
Kuatnya tradisi tersebut, katanya, membuat fatwa Resolusi Jihad Hadrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari Ada pada 22 Oktober 1945 berperan besar sebagai spirit pertempuran 10 November di Surabaya.
Namun, saat ini dengan makin lemahnya nilai-nilai tradisi yang ada di pesantren, bagi Zainul, resolusi jihad dapat menjadi inspirasi untuk kembali menghidupkan sejarah perjuangan ulama. Sudah menjadi keharusan, katanya, masyarakat membentengi serangan nilai-nilai yang melemahkan kekuatan sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
”Kita harus menanamkan militansi agar generasi kita terhindar dari pengaruh nilai-nilai yang merongrong kekuatan NKRI. Kita harus mampu merawat tradisi, yang selama ini menjadi perekat dan kohesivitas sosial kita,” ujar lelaki yang pernah mengenyam Pesantren Matholiul Falah Pati ini.
Ia mengharapkan, implementasi resolusi jihad dapat dijalankan melalui aspek pendidikan. Sistem pendidikan yang saat ini diterapkan dengan model klasikal dan pembuktian sertifikat atau ijazah, merupakan hasil adopsi yang dijalankan Belanda melalui politik etis.
Sama dengan TNI
Sementara itu, Kapten Sudiyono dari Kodim 0604 Karawang, menyatakan hal yang tak jauh beda. Ideologi kebangsaan NU yang menjadikan NKRI sebagai harga mati, sama dengan jiwa yang ada dalam kesatuan TNI.
Pada prinsipnya, menurut dia, tentara tidak pernah mengambil jarak dengan ulama dan pesantren. Hal ini mengingat keberadaan ulama dan pesantren dalam perjuangan kemerdekaan telah bersinergi melakukan gerakan perlawanan terhadap kolonialisme.
”Tentara dan ulama maupun santri dari dulu tidak ada bedanya. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Kebersamaan dan ikatan sosialnya pun sama, karena memang dididik dengan penuh kekompakan,” ungkapnya.
Seminra dihadiri ratusan peserta berasal dari pengurus PCNU, badan otonom di lingkungan NU Karawang, tokoh masyarakat dan pesantren. Selain itu, tampak pula tamu undangan termasuk anggota DPRD Jawa Barat, Gina Fadila Swara dan tokoh perempuan Karwang, Yeni Marlina. (top)







Posting Komentar